
Fakfak_ Program SM3T atau Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal yang melibatkan puluhan sarjana pendidikan dari berbagai daerah di Jawa, telah berakhir. Minggu hari ini dan besok Senin (8/8), sukarelawan pendidikan tersebut kembali ke daerah masing-masing. Lalu, selama setahun di Fakfak, adakah perubahan bagi mereka?
Selama ini, keberadaan mereka belum terekspos oleh media, disebabkan kegiatan mereka jauh dari kota. Selama setahun ini, mereka mengajar di beberapa distrik atau kecamatan, antara lain Tomage, Bomberay, Karas serta daerah Pasir Putih.
“Selama ini kami sangat jarang ke kota, jadi informasi tetang kegiatan kami jadi minim, kalah dengan informasi tentang program Indonesia Mengajar,” ujar Ulya, yang mengaku berasal dari Sragen, Jawa Tengah.
Dhani, gadis asal Purwokerto, Jawa Tengah, menimpali, “Kami dari program SM3T ini, mengajar khusus tingkat SMP dan SMA, dan harus sarjana pendidikan. Sedangkan rekan-rekan dari Indonesia Mengajar, lebih banyak mengajar di SD dan tidak harus berlatar belakang sarjana pendidikan,”
Penuturan menarik diungkap Anis. Menurut sarjana asal Karanganyar ini, pengalaman setahun di Fakfak, membuat dirinya menyadari, bahwa Papua tidak seperti yang dibayangkan selama ini.
“Kalau kita lihat di televisi, mungkin orang tahunya Papua itu dengan berbagai konflik, hutan, serta bayangan lainnya. Namun setelah kami sampai disini, bayangan negatif berubah menjadi positif. Fakfak adalah daerah yang aman, jauh dari konflik. Penduduk asli dan warga pendatang saling berdampingan. Luar biasa. Saya ingin orang luar mengetahui hal ini,” tutur Anis yang mendapat tugas di Bomberay ini. “Apalagi, di Bomberay banyak orang Jawa, jadi saya serasa bertugas di Jawa.” Tambahnya.
Mona, yang berasal dari Jakarta menambahkan, “Sebelum ke Fakfak, memang ada presentasi dari Kadiknas, Bapak Ali Hindom. Beliau menceritakan kondisi Fakfak. hal itu semakin menguatkan hati kami. Sebelumnya, orang tua kami sempat was-was. Tapi kami bertekad untuk tetap berangkat. Ini merupakan pengalaman yang baru dan manis,”
Bagi mereka yang bertugas di Bomberay, kebiasaan makan ikan laut ternyata kurang menyentuh. Pasalnya, seperti dituturkan Anis, di Bomberay kebanyakan makan ikan air tawar hasil budidaya masyarakat.
“Saya jarang makan ikan laut. Kalau di Bomberay malah banyak makan ikan gabus, sebab dibudidaya disana,” kata Anis.
Lalu, bagaimana dengan pala? Dhani, Ulya, Anis serta Mona, ternyata menjadikan pala dengan berbagai jenis olahannya, sebagai oleh-oleh bagi keluarganya di Jawa.
Sayangnya, program SM3T ini kabarnya sudah tidak berlanjut lagi. Apa mungkin Fakfak sudah dianggap bukan daerah tertinggal? Terima kasih untuk para pejuang pendidikan, semoga jasamu tercatat sebagai ibadahmu. (wah)
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak