
Pewarta: Amryn Landupa
INFOFAKFAK.COM, – Musyawarah Daerah (MUSDA) V Partai Golkar Kabupaten Fakfak digelar Sabtu, 15 Agustus 2026, di Grand Hotel Papua Fakfak. Forum ini tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepengurusan, tetapi juga momentum bagi Golkar menyalurkan kekuatan politik sekaligus menyiapkan langkah menuju Pemilu 2029.
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua Barat, Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP., menyebut ada tiga pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi Golkar Fakfak, yakni kaderisasi, konsolidasi organisasi dan penguatan kelembagaan.
Pesan itu disampaikan di hadapan pengurus dan kader Golkar, partai senior dan sesepuh, pimpinan partai politik, penyelenggara pemilu, tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, organisasi kemasyarakatan serta peserta MUSDA V.
Samaun menegaskan, Golkar tidak boleh membangun masa depan hanya dengan mengandalkan tokoh tertentu.
“Kita tidak boleh bergantung hanya pada beberapa orang, apalagi hanya bertumpu pada satu orang,” tegasnya.
Menurut dia, kaderisasi bukan sekedar memperbanyak anggota, tetapi menyiapkan kader yang memiliki kapasitas, karakter, disiplin, kepemimpinan serta pemahaman aturan organisasi.
Oleh karena itu, kader muda, perempuan dan kader potensial yang tumbuh dari distrik, kampung, organisasi kemasyarakatan, kelompok profesi maupun berbagai bidang pengabdian masyarakat perlu mendapat ruang yang lebih besar.
Regenerasi juga tidak boleh menunggu hingga masa jabatan pengurus hampir berakhir. Kader senior perlu membimbing kader baru, sementara kader yang memiliki kapasitas harus diberi kesempatan mengambil tanggung jawab dalam organisasi.
Dengan pola tersebut, Golkar diharapkan memiliki cadangan kepemimpinan yang cukup dan tidak bergantung pada figur tertentu ketika terjadi pergantian pengurus.
Selain kaderisasi, konsolidasi organisasi menjadi pekerjaan penting. Samaun mengingatkan agar Golkar tidak hanya kuat di struktur atas, tetapi juga kehidupan hingga tingkat distrik dan wilayah yang menjadi basis kerja politik.
Setelah MUSDA V, ia mendorong pembenahan struktur secara menyeluruh. Kepengurusan data harus diperbarui, struktur yang belum lengkap segera dibenahi, sementara kepengurusan tidak lagi aktif dievaluasi sesuai mekanisme organisasi.
“Jangan sampai organisasi terlihat lengkap secara administratif tetapi tidak memiliki aktivitas yang terencana,” pesannya.
Ia juga meminta komunikasi antara DPD Kabupaten Fakfak, pimpinan distrik, organisasi sayap, badan dan lembaga partai berjalan rutin. Rapat dan koordinasi, kata dia, tidak hanya bisa muncul ketika ada agenda politik besar.
Catatan pemilu Golkar Fakfak juga menjadi perhatian. Pada periode DPRD 2019–2024, Golkar memperoleh empat dari 20 kursi DPRD Kabupaten Fakfak atau 20 persen keterwakilan. Namun pada Pemilu 2024, perolehan itu turun menjadi tiga kursi atau 15 persen, masing-masing satu kursi di Dapil Fakfak 1, Fakfak 2 dan Fakfak 3.
Penurunan tersebut menjadi catatan bagi Golkar untuk memancarkan kekuatan politiknya menuju Pemilu 2029. Meski begitu, Samaun meminta hasil itu tidak dibaca sebagai alasan pesimistis.
“Data seperti ini tidak perlu kita baca dengan pesimisme. Kita harus membaca sebagai bahan evaluasi organisasi dan menjadi semangat serta motivasi dalam memperjuangkan eksistensi Golkar,” ujarnya.
Golkar, menurut dia, masih memiliki pijakan politik yang cukup kuat di Fakfak. Bersama Gerindra, Golkar menjadi salah satu partai dengan jumlah kursi terbanyak di DPRD Fakfak hasil Pemilu 2024.
Namun, perubahan dari empat kursi menjadi tiga tetap menjadi bahan evaluasi bagi kepengurusan baru. Golkar perlu melihat apa yang harus diperbaiki agar penurunan tersebut tidak kembali terjadi pada Pemilu 2029.
Oleh karena itu, MUSDA V tidak hanya menjadi forum yang menentukan siapa yang akan memimpin Golkar Fakfak, tetapi juga menentukan arah kerja partai setelah kepengurusan baru terbentuk.
Samaun mengingatkan, perjalanan menuju Pemilu 2029 berlangsung dalam situasi politik yang terus berubah. Figur dapat berganti, komposisi pemilih berpindah, generasi baru muncul dan cara masyarakat memperoleh informasi juga berubah.
“Pengalaman masa lalu tidak otomatis menjamin hasil pada masa yang akan datang,” jelasnya.
Golkar, kata dia, harus mampu membaca perubahan melalui kerja organisasi yang nyata dan komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Kader juga harus memahami persoalan di wilayah masing-masing sehingga keberadaan partai tidak hanya terasa ketika memasuki tahun politik.
Penguatan kelembagaan juga menjadi pekerjaan penting bagi kepengurusan baru. Samaun mendorong tata kelola organisasi dilakukan secara tertib, mulai dari administrasi kepengurusan, dokumentasi kegiatan, pengaderan, basis data anggota, sistem komunikasi, pengelolaan program dan keuangan hingga pelaporan serta evaluasi.
Setiap bidang harus memahami tugas dan tanggung jawabnya serta bekerja berdasarkan program yang memiliki target dan jadwal yang jelas.
Bagi Samaun, keputusan MUSDA tidak boleh berhenti sebagai dokumen organisasi. Keputusan tersebut harus diterjemahkan menjadi kerja yang dapat dilihat dan diukur.
Ia juga mengingatkan bahwa karakter sosial, budaya dan geografis Fakfak membutuhkan pendekatan politik yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Kader Golkar harus mampu membangun komunikasi, memahami persoalan daerah, menjaga kebersamaan dan merawat hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat.
Di tengah dinamika MUSDA, Samaun turut mengingatkan agar perbedaan pilihan dan pandangan tidak berkembang menjadi perpecahan.
Perbedaan dalam musyawarah, menurutnya, merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun setelah keputusan ditetapkan melalui mekanisme yang berlaku, seluruh kader harus kembali bersatu.
“MUSDA harus menjadi ruang memperkuat organisasi, bukan meninggalkan luka dan perpecahan,” tuturnya.
Bagi Golkar Fakfak, tantangan setelah MUSDA V bukan hanya soal siapa yang duduk di kursi pimpinan. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh struktur bergerak dan bekerja secara konsisten hingga ke tingkat bawah.
Tiga agenda yang ditekankan Samaun, yakni kaderisasi, konsolidasi dan penguatan kelembagaan, menjadi pekerjaan rumah bagi kepengurusan baru Golkar Fakfak.
Perolehan tiga kursi pada Pemilu 2024 menunjukkan Golkar masih memiliki basis politik. Namun, penurunan dari empat kursi menjadi tiga juga menjadi sinyal bahwa kekuatan tersebut perlu diperkuat kembali.
Menuju Pemilu 2029, pekerjaan itu tidak bisa dimulai menjelang hari pemungutan suara. Kepengurusan baru akan diuji untuk membuktikan bahwa MUSDA V bukan sekadar pergantian struktur, tetapi menjadi awal dari kerja politik dan konsolidasi organisasi yang lebih serius.***
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak