
Reporter: Amryn Landupa
INFAKFAK.COM, Setiap pagi, sayur-mayur segar memenuhi lapak pedagang di Pasar Thumburuni hingga pasar Torea. Di balik aktivitas penjualan beli itu, ada petani lokal yang setiap hari mengolah lahan, merawat tanaman hingga memanen sayuran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Hal itu terlihat saat melihat langsung kebun dua petani di Fakfak. Dari kedua kebun tersebut, sejumlah sayuran hijau yang setiap hari masuk ke pasar ternyata dipanen dari lahan petani lokal, bukan seluruhnya didatangkan dari luar daerah.
Sawi, kangkung, bayam, buncis hingga kacang panjang menjadi beberapa jenis sayuran yang rutin dipanen dan dipasarkan.
Salah satu kebun tersebut berada di Sorpeha, Kelurahan Danaweria, Distrik Fakfak Tengah. Di lahan itu, Kelompok Tani “Sumber Rezeki” membudidayakan berbagai jenis sayuran untuk dipasarkan di wilayah Fakfak.
Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki, Subhan Woretma, mengatakan dirinya bersama lima anggota kelompok telah menggarap lahan seluas sekitar satu hektar sejak 2011.
Tanaman ditata dalam sejumlah bedengan dan ditanam secara berselang-seling. Pola tersebut dilakukan agar waktu panen tidak bersamaan sehingga sayuran bisa tersedia setiap hari.
“Setiap hari kami bisa memotret dan mendistribusikan sekitar 100 ikat sayur segar seperti sawi, kangkung, dan bayam langsung ke langganan di Pasar Tumburuni,” ujar Subhan saat ditemui di kebunnya.
Menurut Subhan, pola tanam tersebut juga disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Bedengan berukuran sekitar 20 x 20 meter dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran secara bergantian.
Sayuran yang telah dipanen kemudian dibawa ke pasar atau diserahkan langsung kepada pelanggan. Dari kebun, hasil panen tersebut masuk ke rantai perdagangan lokal dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Subhan merupakan salah satu petani binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak. Melalui pelatihan tersebut, ia bersama kelompoknya mendapat dukungan untuk mengembangkan usaha pertanian.
Kepala Bidang Hortikultura dan Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Fakfak, Taha Bahmid, mengatakan pada tahun anggaran ini terdapat 38 kelompok petani yang menjadi sasaran pelatihan dan tersebar di delapan distrik.
Khusus tahun ini, program diarahkan pada pelatihan kepada petani Orang Asli Papua (OAP) melalui pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus). Bantuan yang diberikan meliputi bibit, pupuk organik, obat-obatan pemeliharaan tanaman serta sarana mekanisasi seperti transmisi dan tangki semprot.
Pendampingan kepada petani juga dilakukan oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), khususnya dalam proses budidaya dan pemeliharaan tanaman.
Dari Fakfak Tengah, hasil petani lokal juga terlihat di Kampung Kapaurtutin, Distrik Pariwari. Ketua Kelompok Tani Umberkendik, Sudarmo, bersama anak-anaknya mengelola lahan pribadi berukuran sekitar 20 x 40 meter untuk membudidayakan buncis dan kacang panjang.
Sudarmo yang menetap di Fakfak sejak 2008 telah menekuni usaha pertanian selama lebih dari 10 tahun. Bagi buncis, hasil panennya bisa cukup besar ketika kondisi cuaca mendukung.
“Kalau kondisi dan cuaca normal, sekali petik buncis bisa dapat 100 sampai 150 kilogram untuk disetor ke Pasar Tumburuni dan kawasan Torea,” kata Sudarmo saat ditemui di lahannya.
Namun, produksi tersebut sangat bergantung pada kondisi dan cuaca. Ketika musim kemarau menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi Sudarmo untuk mempertahankan tanaman.
Ia mengaku harus membeli air bersih untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan pasokan udara. Sekali pasokan, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp150.000.
Dalam satu bulan terakhir, pengeluaran untuk kebutuhan air bahkan telah mencapai lebih dari Rp1 juta. Biaya tersebut menjadi beban tambahan bagi petani untuk menjaga tanaman tetap tumbuh hingga masa panen.
Sudarmo juga merupakan salah satu petani binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak. Bagi petani, dukungan sarana dan pendampingan teknis tetap dibutuhkan untuk menjaga usaha tani berjalan, terutama ketika menghadapi kendala udara dan cuaca.
Di sisi lain, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak masih menghadapi keterbatasan tenaga penyuluh. Dengan wilayah kerja yang luas, tenaga penyuluh harus menjangkau 142 kampung yang tersebar di Kabupaten Fakfak.
Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga produktivitas petani. Penguatan sarana pertanian dan pendampingan teknis tetap diperlukan agar produksi sayuran lokal dapat terus berjalan.
Dari kebun Subhan di Fakfak Tengah hingga lahan Sudarmo di Pariwari, hasil pertanian lokal setiap hari masuk ke pasar dan menjadi bagian dari kebutuhan pangan masyarakat. Sayuran yang terlihat sederhana di lapak pedagang itu melewati proses panjang, mulai dari mengolah tanah, menanam, merawat hingga memanen.
Di tengah berbagai keterbatasan, petani lokal tetap memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan sayuran di Fakfak. Dari lahan-lahan petani tersebut, hasil kebun terus dipanen dan dibawa ke pasar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.***
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak
