
Reporter: Amryn Landupa
INFOFAKFAK.COM, – Di tengah padatnya agenda kegiatan sejak pagi hingga siang hari, Ibu Nurwidayati Samun Dahlan melanjutkan aktivitas dengan menghadiri Masigit Magh di Masjid Nur Thalib Kampung Tanama, Jalan Mambruk Dalam. Senin, 15 Juni 2026. Kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan dua ruang penting dalam kehidupan masyarakat, yakni pendidikan dan tradisi sosial-keagamaan di masjid.
Masigit Magh merupakan tradisi keagamaan dan sosial yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Fakfak sebagai ruang kebersamaan warga di masjid. Kegiatan ini menjadi sarana silaturahmi, penguatan nilai-nilai keagamaan, serta wadah interaksi sosial yang mempererat hubungan masyarakat secara turun-temurun.
Sejak pagi, Masjid Nur Thalib telah dipenuhi warga dari berbagai kalangan. Pemuda, orang tua, hingga tokoh masyarakat berkumpul dan duduk bersama tanpa sekat untuk mengikuti rangkaian kegiatan Masigit Magh. Tradisi ini terus hidup sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang memadukan nilai-nilai adat, agama, dan kebersamaan dalam satu ruang yang sederhana namun bermakna.
Panitia bersama pengurus Masjid Nur Thalib menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh warga yang telah menyumbangkan waktunya untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan Masigit Magh. Kehadiran masyarakat dinilai menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun di Fakfak.
Menjelang sore, di tengah kegiatan yang masih berlangsung, Nurwidayati tiba di Masjid Nur Thalib. Kehadirannya disambut hangat oleh warga yang sejak pagi telah mengikuti rangkaian kegiatan. Dalam suasana adat yang masih terjaga, ia kemudian mengenakan sarung sebagai simbol penghormatan dan penerimaan, yang mencerminkan eratnya hubungan antara tamu dan masyarakat dalam tradisi setempat.
Momen tersebut berlangsung keakraban dan penuh kekeluargaan, menampilkan bagaimana nilai-nilai budaya masih hidup dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran tamu dalam kegiatan keagamaan disambut dengan sederhana namun sarat makna, tanpa jarak dan penuh keterbukaan.
Filosofi Satu Tungku Tiga Batu yang menggambarkan keselarasan antara adat, agama, dan kehidupan sosial terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat Fakfak. Nilai ini tidak hanya menjadi simbol, namun hadir dalam praktik keseharian, termasuk dalam pelaksanaan Masigit Magh yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Dalam kesempatan itu, Nurwidayati Samun Dahlan menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi tersebut.
“Yang membuat saya bahagia adalah melihat tradisi seperti Masigit Magh masih terus hidup di tengah masyarakat. Ini bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi yang menguatkan persaudaraan dan menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para orang tua kepada generasi sekarang,” ujar Ibu Nurwidayati.
Menurutnya, tradisi berbasis masjid seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter sosial masyarakat, karena di dalamnya tumbuh nilai kebersamaan, kepedulian, dan spiritualitas yang berjalan seiring dengan kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu menampilkan keterhubungan yang utuh antara dunia pendidikan dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Fakfak. Dari kegiatan penamatan anak usia dini hingga kebersamaan dalam Masigit Magh, semuanya bersatu dalam satu alur kehidupan yang saling melengkapi.
Di Kabupaten Fakfak, tradisi Masigit Magh terus hidup dan menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat. Melalui kegiatan ini, nilai kebersamaan, adat, dan keagamaan terus dilestarikan sebagai warisan yang dijaga dari generasi ke generasi.***
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak