Breaking News
Home / Fakfak News / Bupati Fakfak: Sejarah Masuknya Islam ke Tanah Papua Harus Jadi Pelajaran Toleransi

Bupati Fakfak: Sejarah Masuknya Islam ke Tanah Papua Harus Jadi Pelajaran Toleransi

Saat sambutan, Bupati Fakfak Samaun Dahlan menegaskan sejarah masuknya Islam ke Tanah Papua menjadi pelajaran penting untuk merawat toleransi dan semangat Satu Tungku Tiga Batu. Sabtu, 8 Agustus 2026.

 

Reporter: Amryn Landupa

INFOFAKFAK.COM, – Bupati Fakfak Samaun Dahlan mengajak masyarakat menjadikan sejarah masuknya agama Islam ke Tanah Papua bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sebagai pelajaran penting untuk memperkuat toleransi, persaudaraan dan persatuan di tengah keberagaman.

Pesan itu disampaikan Samaun saat memberikan sambutan pada peringatan masuknya agama Islam ke Tanah Papua yang berlangsung di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Fakfak, Sabtu 8 Agustus 2026.

Menurutnya, sejarah masuknya Islam ke Tanah Papua tidak hanya berkaitan dengan perjalanan agama, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat Papua yang sejak dahulu hidup dalam keberagaman.

“Yang terpenting adalah pesan Islam yang bersifat universal, yaitu nilai rahmatan lil ‘alamin yang harus dilestarikan untuk mewarnai kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, khususnya di Tanah Papua,” ujar Bupati Samaun.

Ia menjelaskan, Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkembang dari Makkah dan Madinah, kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Nusantara hingga akhirnya sampai ke Tanah Papua.

Dalam sejarah yang menjadi dasar peringatan di Fakfak, agama Islam disebut masuk ke Tanah Papua melalui Fakfak pada tanggal 8 Agustus 1360 Masehi atau bertepatan dengan 24 Ramadhan 761 Hijriah.

Islam disebut dibawa oleh seorang mubalig dari Aceh bernama Syekh Abdul Ghaffar yang mendarat di wilayah Gar, Kampung Rumbati, Fakfak.

Bagi Samaun, peristiwa tersebut merupakan bagian penting dari sejarah Fakfak yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.

Namun, memperingati sejarah tidak cukup hanya dengan mengingat tanggal dan tokoh yang terlibat. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah mengambil nilai dari perjalanan sejarah tersebut untuk kehidupan masyarakat saat ini dan masa depan.

“Cinta kasih akan melahirkan kerukunan, kebersamaan dan persatuan,” katanya.

Fakfak, lanjut Samaun, memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan agama di Tanah Papua. Selain Islam, agama Protestan dan Katolik juga memiliki perjalanan sejarah yang panjang di wilayah tersebut.

Agama Protestan masuk ke Tanah Papua melalui Pulau Mansinam, Manokwari, pada tanggal 5 Februari 1855. Sementara agama Katolik hadir di wilayah Fakfak pada tanggal 22 Mei 1894 melalui Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville.

Ketiga agama tersebut kemudian berkembang dan berdampingan dengan kehidupan di tengah masyarakat.

Menurut Samaun, kondisi itu tidak dapat dilepaskan dari kearifan lokal masyarakat Fakfak yang dikenal dengan filosofi Satu Tungku Tiga Batu.

Filosofi tersebut menjadi salah satu landasan kehidupan masyarakat Fakfak dalam menjaga hubungan antarsesama di tengah perbedaan agama, suku dan budaya.

“Satu Tungku Tiga Batu merupakan nilai kearifan lokal yang menjadi landasan berpikir dalam membangun kehidupan masyarakat Fakfak,” jelasnya.

Ia menilai, nilai tersebut harus terus dijaga karena menjadi kekuatan sosial masyarakat Fakfak dalam membangun kehidupan yang aman, damai dan harmonis.

Samaun juga mendorong agar sejarah masuknya tiga agama besar, yakni Islam, Protestan dan Katolik, di Tanah Papua menjadi bagian dari kurikulum lokal.

Ia meminta sejarah tersebut tidak hanya dikenalkan sebagai tambahan pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran agar generasi muda memahami perjalanan daerahnya sekaligus nilai toleransi yang diwariskan para leluhur.

“Semua guru harus tahu tentang sejarah masuknya tiga agama besar di Tanah Papua. Pengetahuan ini penting agar peserta dididik memahami sejarah daerahnya dan nilai toleransi yang telah diwariskan para leluhur,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan sejarah dapat menjadi salah satu cara membangun kesadaran generasi bahwa perbedaan agama yang muda bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan bagian dari kehidupan bersama.

Dalam kesempatan itu, Samaun juga memberikan apresiasi kepada panitia peringatan masuknya agama Islam ke Tanah Papua yang telah menggelar berbagai rangkaian kegiatan keagamaan.

Kegiatan tersebut antara lain lomba hadrat, bershalawat, kreasi keagamaan sekolah, membaca Kitab Berjanji, lomba ceramah bagi siswa SMK dan SLTA hingga Haflah Al-Qur’an dengan menghadirkan peserta dari luar daerah.

Ia menilai rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat.

Samaun berharap kegiatan keagamaan dalam rangka memperingati masuknya Islam ke Tanah Papua dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan tetap mengedepankan semangat toleransi dan kebersamaan.

Ia juga mengingatkan pentingnya memahami perbedaan antara kegiatan ritual dan seremonial dalam kehidupan keagamaan.

Kegiatan ritual merupakan bagian dari ibadah yang berkaitan dengan keyakinan masing-masing umat beragama dan harus dihormati. Sementara kegiatan seremonial dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk umat beragama lain, untuk berpartisipasi.

“Semangatnya adalah kebersamaan, toleransi, persaudaraan dan saling menghormati,” tegasnya.

Samaun menambahkan, Fakfak memiliki sejumlah peninggalan sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam di Tanah Papua.

Salah satunya Masjid Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, yang dikenal sebagai salah satu masjid tua di Fakfak.

Selain bangunan bersejarah, terdapat pula manuskrip Al-Qur’an tulisan tangan yang menjadi bagian dari warisan sejarah Islam di Fakfak.

Menurutnya, berbagai peninggalan tersebut merupakan kekayaan sejarah yang harus dijaga, diteliti dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Oleh karena itu, Samaun menyampaikan penghargaan kepada para ulama, tokoh agama, tokoh adat serta seluruh tamu yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti peringatan masuknya agama Islam ke Tanah Papua.

Beliau juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua Panitia Dr. H. Wahidin Puarada beserta seluruh panitia yang telah bekerja menyukseskan rangkaian kegiatan tersebut.

Secara khusus, Samaun mengapresiasi kehadiran KH Munawir Aseli yang turut memberikan kajian dan pesan keagamaan dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kehadiran para ulama dan tokoh agama penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Di akhir sambutannya, Samaun kembali mengajak masyarakat menjaga warisan leluhur yang telah menjadi kekuatan sosial masyarakat Fakfak.

Ia berharap filosofi Satu Tungku Tiga Batu tidak berhenti menjadi slogan, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Marilah kita rawat warisan leluhur kita, Satu Tungku Tiga Batu, sebagai kekuatan moral dan sosial dalam membangun Fakfak yang damai, sejahtera dan harmonis,” tutupnya.

Bagi Samaun, peringatan masuknya Islam ke Tanah Papua pada akhirnya bukan hanya melihat tentang kembali perjalanan masa lalu. Lebih dari itu, sejarah tersebut menjadi pijakan untuk menjaga kehidupan Fakfak agar tetap rukun, saling menghormati dan kuat dalam keberagaman.***

About Amrin Landupa

Check Also

Tak Sekadar Tampil, Sanggar Tanace Manfaatkan Panggung 666 Tahun Islam untuk Lestarikan Budaya Fakfak

  Pewarta: Amryn Landupa INFOFAKFAK.COM, – Sanggar Tanama Cengkeh Tiga (Tanace) memanfaatkan rangkaian Peringatan 666 ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *