
Reporter : Jojie Muskita Matitaputty
Editor : Wahyu Hidayat
INFOFAKFAK.COM, Fakfak – Dalam upaya pengendalian HIV-Aids di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak mengadakan Kegiatan “StakeHolder Networking Meeting” (Pertemuan Jejaring Stakeholder) .
Dalam pertemuan yang dilangsungkan di ruang pertemuan Bappeda Fakfak pada Senin hingga Selasa, 22-23 Agustus 2022 tersebut, Saleh Hindom , SKM., MPH., dalam sambutannya menjelaskan, kasus HIV dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2022 terdapat 547 kasus terlapor.
Menurutnya, untuk menurunkan angka penularan, perlu kerja sama lintas sektor.
StakeHolder Networking Meeting atau pertemuan jejaring stakeholder memperlihatkan kondisi penyebaran virus HIV di Kabupaten Fakfak dalam kurun waktu 14 tahun terakhir ini sudah sangat memprihatinkan.
Saleh Hindom mengatakan, “Ada dua masalah nasional yang belum terselesaikan, yaitu pandemi covid-19 dan stunting. Namun hal lain yang perlu diperhatikan dan tidak diabaikan yaitu PTT (Penyakit Tidak Terabaikan) seperti HIV-Aids, TBC, malaria serta beberapa komponen pemyakit lainnya,”
Mengenai HIV-Aids, harus ada satu model penanganan yang perlu dilaksanakan secara baik oleh semua lintas sektor, sehingga angka kenaikan kasus bisa dikendalikan dan berkurang.
“Perlu ada model penanganan HIV- Aids agar bisa ditekan. Sejak 2008 – 31 Juli 2022, ada sekitar 543 kasus HIV-Aids yang terdeteksi. Bayangkan dengan jumlah penduduk Fakfak 89.015 jiwa, maka diantara 100 orang di Kabupaten Fakfak, tentu ada satu orang yang terinfeksi HIV-Aids. Ini merupakan suatu masalah yang perlu disikapi bersama, bukan hanya dari Dinas Kesehatan tetapi juga dari lintas sektor lainnya,” ungkap Saleh Hindom.
Sementara itu Nani Sri Untari, S.K.M., Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, menjelaskan, status ODHA yang hilang kontak 27 %, hidup 25 %, meninggal 38 %, pindah kota10 %.

Menurut Nani, jika diambil data dari 2012, maka ODHA hidup memulai terapi ART/ARV (antiRetroviral) total sekitar 358 jiwa. Sedangkan non ART 34 jiwa dan jumlah hidup dengan stadium 3-4 ada 94 jiwa.
Senada dengan Saleh Hindom, Nani mengungkapkan bahwa perlu adanya kerja sama lintas sektor untuk menekan angka penularan HIV-Aids di Kabupaten Fakfak.
“Perlu kerjasama lintas sektor untuk mengendalikan dan menekan angka penularan HIV-Aids. Apalagi saat ini angka penularan terjadi pada usia SMA pada beberapa kasus. Perlu dukungan Pemerintah, akademisi, swasta, LSM, media dan masyarakat. Ini adalah kerja Bersama,” ujar Nani.
Nani juga menuturkan, peningkatan kasus HIV-Aids tidak terlepas dari persoalan di lapangan, sehingga proses pendataan, penanganan, pengobatan dan pengendalian masih terhambat.
“Beberapa persoalan di lapangan yang sering kami temukan ialah, belum optimalnya pengunjung layanan “diminta tes” oleh petugas, notifikasi pasangan belum optimal karena mitra penjangkau sulit mendapat akses by name, data hasil skrining ibu hamil belum semua terinput kedalam SIHA, pemantauan bayi lahir dari ODHIV belum semuanya diinput dalam SIHA, Keterbatasan RDT-HIV – RDT Sypilis – Oat IMS, dukungan mitra penjangkau masih prioritas populasi kunci, dan juga perlindungan kepada petugas,” jelas Nani.
Dalam pertemuan Rapat ini hadir juga perwakilan DInas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, DInas Sosial, LSM, perwakilan setiap Puskesmas, perwakilan pengelola “café”, pengelola panti pijat serta Media. ***
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak