Home / Fakfak News / Kesehatan / Hipertensi Tak Terkontrol Dapat Menyebabkan Gangguan Fungsi Ginjal

Hipertensi Tak Terkontrol Dapat Menyebabkan Gangguan Fungsi Ginjal

dr. Marcel P Mulyantara, S.ked. (Foto Ist/jojie)

Reporter : Jojie Matitaputty   | Editor : Wahyu Hidayat
INFOFAKFAK.COM_ Hipertensi atau yang kita kenal dengan tekanan darah tinggi, sering disebut sebagai “The Silent Killer”, karena sering sekali orang yang mengalami hipertensi tidak merasakan keluhan.

Menurut WHO, seseorang dikatakan mengalami hipertensi apabila diukur pada dua hari yang berbeda, dimana tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik pada kedua hari tersebut adalah lebih dari 90 mmHg. Hal ini tentunya berbeda dengan anggapan umum yang sering kita tahu bahwa, tekanan darah disebut tinggi apabila melebih angka sistolik/diastolik yaitu pada angka 120 mmHg/ – 80 mmHg.

Data WHO tahun 2019 mencatat, prevalensi hipertensi secara global sebesar 22 % dari total penduduk dunia.

Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2019 (Riskesdas 2019), prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Hal Ini mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi hipertensi pada Riskesdas Tahun 2013 yang sebesar 25,8%.

Diperkirakan hanya 1/3 kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis, sisanya tidak terdiagnosis.

Hipertensi merupakan kontributor primer tunggal penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke, terutama masalah kerusakan ginjal akibat tidak terkontrolnya tekanan darah. Ginjal sangat memerlukan sistem sirkulasi darah yang baik untuk bekerja. Pada dasarnya,  fungsi ginjal menyaring darah dari toksin dan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh, maka itu darah yang melalui ginjal sangat banyak, jika tekanan di pembuluh darah tinggi, maka pembuluh darah arteri pada ginjal akan menyempit, hal ini menyebabkan sel ginjal tidak akan mendapatkan cukup oksigen untuk bekerja dengan baik. Hal ini jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, maka akan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal. Biasanya pasien  sadar setelah di diagnosa gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah.

dr. Marcel P Mulyantara, S.ked. seorang dokter yang sering menjadi pembicara kesehatan, kepada infofakfak.com melalui telepon pada Kamis, 23 September 2021, menyampaikan, “Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol akan menyebabkan arteri di area ginjal menyempit, melemah, dan mengeras. Hal ini mengakibatkan sirkulasi darah ke ginjal  terhambat sehingga ginjal gagal melakukan fungsinya,”

Dalam wawancara tersebut, dr. Marcel mengutip American Society of hipertensi online/ASH bahwa hipertensi adalah sekumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks yang saling berhubungan. Dia juga menambahkan, menurut JNC VII ( The Eight Joint National Committee) bahwa hipertensi ditandai dengan kenaikan tekanan diatas 140/90 mmHg.

“Kardiovaskular berkaitan dengan sistem peredaran darah, yang terdiri dari jantung dan pembuluh darah dan membawa nutrisi dan oksigen ke jaringan tubuh dan menghilangkan karbon dioksida dan limbah lainnya,”

Kemudian dalam penjelasannya mengenai bagaimana tubuh mengatur tekanan darah, dr. Marcel mengatakan, “Yang memegang peranan sentral adalah ACE (Angiotensin converting enzyme). ACE terdapat ada liver, berfungsi mengubah angiotensin 1 dari paru, menjadi angiotensin 2 yang mengatur sirkulasi melalui 2 cara, pertama, meningkatkan sekresi hormon antidiuretic yang berada di Hipotalamus dan bekerja di ginjal, cara kedua menstimulasi sekresi hormon aldosterone untuk mengatur konsentrasi NAcl (natrium clorida) yang meningkatkan volume ekstrasel yang berpengaruh pada naik turunnya tekanan darah,”

Angiotensin-converting enzyme atau ACE, adalah komponen sentral dari sistem renin-angiotensin, yang mengontrol tekanan darah dengan mengatur volume cairan dalam tubuh.

Tekanan darah yang tak terkontrol dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal. “Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol akan menyebabkan arteri di area ginjal menyempit, melemah, dan mengeras, hal ini mengakibatkan sirkulasi darah ke ginjal  terhambat sehingga ginjal gagal melakukan fungsinya. Maka itu perlu agar menjaga tekanan darah tetap terkontrol,” ujarnya.

Menurutnya, bagi masyarakat yzng sudah memiliki tekanan darah yang tidak normal, perlu disiplin meminum obat hipertensi  sesuai dosis yang ditetapkan agar tekanan darah terkontrol.

dr. Marcel juga menjelaskan bahwa, tidak benar dengan meminum obat hipertensi sesuai dosis  dapat menyebabkan kerusakan ginjal.

“Obat yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal  adalah obat golongan  antibiotik, anti nyeri, anti inflamasi, jika diminum berlebihan. Obat hipertensi bukan golongan dari ketiganya. Justru obat hipertensi bagi yang memiliki hipertensi  dibutuhkan untuk menyokong fungsi mekanisme pengaturan tekanan darah pada tubuh manusia. Selain  obat-obatan yang harus dikonsumsi, baiknya juga  melakukan pola hidup sehat. Mengenai pola hidup sehat ini juga berlaku bagi yang memiliki tekanan darah normal,” ungkapnya.

Dengan melakukan pola hidup sehat, maka akan mencegah kita dari tekanan darah yang tidak normal.

“Ada 3 pencegahan hipertensi, yakni; yang pertama, tidur cukup selama 6-8 jam perhari. Kurangi makanan berlemak, lakukan aktiftas fisik untuk menjaga berat badan, hindari minuman beralkohol dan tidak merokok. Kedua, kurangi asupan garam, manajemen stress. Dan ketiga, lakukan cek tensi rutin minimal sebulan sekali (sebaiknya usia 18 tahun keatas sudah melakukan cek tensi rutin)  lalu ikuti program edukasi hipertensi,” pungkas dokter dari Cikarang ini. ***

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia Vaksin 231 Orang di 5 Distrik

Reporter : Amrin Landupa Editor : Wahyu Hiduayat INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Aliansi Masyarakat Sipil Indonesia untuk ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *