Breaking News
Home / Headline / Perempuan Papua Dan Belenggu Patriarki, Adonia M H :  Harus Survive Untuk Hak-Haknya.

Perempuan Papua Dan Belenggu Patriarki, Adonia M H :  Harus Survive Untuk Hak-Haknya.

Keterangan foto: Adonia M Hombahomba Aktivitis, Feminis. “Super girl dari Fakfak”. (foto: Nia FB)

 

Reporter : Jojie Matitaputty
INFOFAKFAK.COM_ Patriarki adalah sistem sosial yang didasarkan pada dominasi laki-laki dalam keluarga, masyarakat, dan institusi-institusi yang ada di dalamnya. Dalam patriarki, kekuasaan dan otoritas secara tradisional dipegang oleh pria, sedangkan perempuan cenderung berada dalam posisi yang lebih rendah dan tunduk pada pria.

Patriarki juga mencakup struktur kekuasaan yang lebih luas di masyarakat, termasuk di tempat kerja, politik, dan lembaga-lembaga sosial lainnya. Pria cenderung mendominasi posisi-posisi kekuasaan dan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk maju dalam karier atau mencapai keberhasilan sosial, sementara perempuan seringkali menghadapi hambatan dan diskriminasi.

Di Tanah Papua, perempuan sedang mengambil peran yang kuat dan progresif dalam membebaskan diri mereka dari belenggu patriarki. Melalui upaya kolektif dan perjuangan yang gigih, mereka merintis jalan menuju kesetaraan gender dan perubahan sosial yang positif.

Di tengah hutan lebat dan gunung-gunung yang megah, perempuan Papua menemukan keberanian dan kekuatan dalam diri mereka. Mereka menolak peran tradisional yang telah lama ditetapkan oleh masyarakat patriarkal dan memulai langkah-langkah untuk membawa perubahan. Pertama, mereka mencari pendidikan dan pengetahuan, menghargai pentingnya pemahaman yang mendalam tentang hak-hak mereka dan kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan sosial dan politik.

Sosok aktivis perempuan ini menutur, sistem patriarki di Tanah Papua masih sangat kental, bahwa dalam banyak kesempatan, pria masih memimpin dengan otoritasnya dan mempunyai hak untuk mengambil keputusan dalam kehidupan, namun perempuan Papua dengan keberanian dan semangat untuk membebaskan diri dari belenggu patriaki, sedikit demi sedikit mulai mendapat tempat dalam berbagai aspek kehidupan.

“Perempuan Papua harus berani tampil dan survive memperjuangkn hak-haknya sebagai bukti bahwa, perempuan Papua juga bisa mengambil bagian dalam  pekerjaan, struktur sosial dan politik,” tutur Adonia M Hombahomba, seorang Aktivis perempuan, Feminis asal fakfak  yang menyuarakan isu kesetaraan, pada Sabtu, (01/072023) melalui email.

Dalam wawancara yang dilakukan infofakfak.com melalui email, Nia sapaannya, bercerita bagaimana pekerjaan yang ia lakukan merupakan pekerjaan yang cukup identik dengan pekerjaan laki-laki pada umumnya.

“Kesibukan saya saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta pertambangan bagian material maintenance, yaitu mengolah hasil limbah dari aktivitas pertambangan pada area pertambangan itu sendiri. Kemudian, saya juga memiliki lisensi mengoperasikan alat berat, serta keterampilan menggunakan aplikasi GIS (Geographic Information System) yang saya dapatkan waktu menempuh pendidikan S1 Teknik Arsitektur,” ungkap Nia.

Tidak sampai disitu, semangatnya sebagai aktivis perempuan dan juga seorang feminis,  Nia pernah mengikuti ajang Modeling Papua Plus Size di Timika. Pada saat itu, Nia keluar sebagai juara dan  memawakili Papua ditingkat nasional, di Bali pada tahun 2022.

Dari ajang tersebut Ia berpendapat bahwa, cantik tidak harus bertubuh langsing dan putih untuk merasakan panggung catwalks, yang penting adalah kepercayaan diri.

“Kepercayaan dari dalam diri bahwa saya bisa dan saya sama dengan mereka, mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih apa yang saya impikan dengan tetap belajar mengasah kemampuan pada bidang yang diminati,” imbuhnya.

Nia berharap, banyak perempuan Papua yang berani dan mampu berdiri sebagai pemimpin seperti yang sudah dirintis oleh Mama Yohana Dina Hindom.

“Apa yang dilakukan Mama Yohana Dina Hindom, yang sekarang wakil Bupati Fakfak, adalah batu loncatan untuk  kita perempuan muda Papua terutama perempua Fakfak, agar semakin tertarik menjadi pemimpin atau pejabat, politis yang memperjuangkan hak-hak kami perempuan karena sejauh ini kami perempuan masih sedikit tertinggal satu langkah dari laki-laki pada era yang semakin maju saat ini,” harapnya.

Nia pun tak menampik, bahwa dirinya kelak akan masuk ke dunia politik jika sudah waktunya.

“Untuk saat ini masih belum ada niat untuk mencelupkan kaki di dunia politik, namun tidak menutup kemungkinan suatu saat jika diberikan kepercayaan untuk berada di lingkungan politiik, saya akan  berdiri sebagai perempuan negeri ini untuk mewujudkan hak-hak perempuan MbahamMatta,” tutupnya. ***

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Perkuat Sinergitas TNI-Polri Gelar Buka Puasa Bersama

  Reporter: Sri Mariati INFOFAKFAK.COM_ Untuk memperkuat sinergitas TNI dan Polri di wilayah Fakfak, menjelang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *