Home / Info Kampung / Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Masih Tinggi, Dinas P3AP2KB Sediakan Rumah Aman

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Masih Tinggi, Dinas P3AP2KB Sediakan Rumah Aman

Sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan. (Foto Ist)

 

Reporter : Jojie Muskita Matitaputty
Editor : Wahyu Hidayat

INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Fakfak dalam 5 tahun terakhir ini mengalami kenaikan. Demikian dijelaskan Santi Christine N Patiran, S.H., Kepals Bidang PKPDRT atau Pencegahan Kekerasan Perempuan Dalam Rumah Tangga pada Dinas P3AP2KB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB) Kabupaten Fakfak kepada media ini pada Kamis, 25 November 2022  yang diperingati juga sebagai Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.

Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Kabupaten Fakfak, lebih banyak dari pada yang dilaporkan. Hal ini disebabkan pihak keluarga korban enggan melapor karena adanya hal privasi yang bisa mencoreng nama baik keluarga.

“Kasus terlapor kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2018 terdapat 17 kasus, pada tahun 2019 terdapat 27 kasus, sedangankan di tahun 2020 terdapat 26 kasus,  dan tahun 2021 terdapat 40 kasus.  Tahun 2022, terdapat 26 kasus dan proses pelaporan di tahun 2022 masih terus berlangsung. Banyak kasus yang tidak dilaporkan karena alasan privasi,” tuturnya.

Lebih jauh Santi menjelaskan, rata-rata kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Kabupaten Fakfak ditemukan di kampung–kampung.

“Kurangnya informasi tentang pentingnya kesetaraan gender, melindungi diri dari kekerasan fisik seksual, verbal  serta budaya patriarki, menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya kekerasan terhadap perempuan,” jelas Santi.

Selanjutnya dikatakan, “Bagian PKDRT selalu memberikan pemahaman dan sosialisasi terhadap masyarakat, khsusunya yang berpotensi mengalami kekerasan dan juga keluarga korban untuk melaporkan apabila ada indikasi mengalami kekerasan. Kemudian untuk korban, kami selalu melakukan pendampingan dan pemulihan psikologis. Kami juga memiliki rumah aman di komplek kantor Dinas P3AP2KB yang dapat dipakai sebagai tempat proses pemulihan psikolgis  dalam jangka waktu tertentu,” ungkap Santi.

Sementara itu, Sari Widjaya, salah seorang aktifivis perempuan yang fokus pada isu–isu feminisme dan kekerasan terhadap perempuan dari jaringan gusdurian dan Forum Temu Kebangsaan mengatakan bahwa, sosialisasi harusnya tidak hanya fokus terhadap korban, tetapi juga kepada orang berpotensi menjadi pelaku.

“Perlu ada sosialisasi kesetaraan gender dari usia dini sampai usia dewasa, sehingga meminimalisir kasus kekerasan seksual dikemudian hari,” kata Sari. “Saya berharap agar perempuan lebih berani dalam menyuarakan isu–isu kekerasan terhadap perempuan,” tambahnya.

Di Indonesia, kasus kekerasan terhadap perempuan yang dihimpun dari data Komnas Perempuan pada tahun 2021, mengalami kenaikan, tercatat sebanyak 338.496 kasus, mengalami kenaikan signifikan sebanyak 50% dari tahun 2020 dengan jumlah kasus 226.062 kasus. Pada tahun 2022, menurut data SIMFONI PPPA pertanggal 1 januari 2022 hingga saat ini, tercatat 22, 744 kasus dan pelaporan masih terus berlanjut hingga akhir tahun.

Sedangkan di Provinsi Papua Barat, kasus kekerasan terhadap perempuan dari data SIMFONI PPPA pertanggal 1 januari 2022, terdapat 247 kasus. ***

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

“Jumat Curhat” Polres Fakfak, Tatap Muka Dengan Ojek dan Sopir Angkot

  Pewarta : Annisa Mirandra INFOFAKFAK.COM_  Kepolisian Resor Fakfak kembali menyelenggarakan kegiatan “Jumat Curhat” yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *