Breaking News
Home / Headline / Bumi Mbaham-Matta untuk Indonesia, Gerakan “Taruh Harta” Satukan Gereja dan Masjid, Sekber Simbol Persaudaraan Lintas Iman

Bumi Mbaham-Matta untuk Indonesia, Gerakan “Taruh Harta” Satukan Gereja dan Masjid, Sekber Simbol Persaudaraan Lintas Iman

Momen kebersamaan sebelum peresmian Sekretariat Bersama (Sekber) Gereja GKI Bethel Waserat dan Masjid At-Taqwa Saharei, Sabtu 11 Juli, yang mencerminkan nilai persaudaraan dalam bingkai Satu Tungku Tiga Batu.

 

Reporter: Amryn Landupa

INFOFAKFAK.COM, – Di tanah Bumi Mbaham-Matta, filosofi leluhur “Satu Tungku Tiga Batu” kembali menyala, bukan hanya dalam tuturan kata, tetapi melalui tindakan nyata. Persaudaraan lintas iman masyarakat Waserat dan Saharei mencatat sejarah baru setelah Sekretariat Bersama (Sekber) Gereja GKI Bethel Waserat dan Masjid At-Taqwa Saharei resmi dibuka, Sabtu 11 Juli 2026, sekaligus melahirkan Gerakan “Taruh Harta” untuk membangun dua rumah ibadah dalam semangat kebersamaan.

Peresmian Sekber tersebut dilakukan oleh Wakil Ketua III DPRK Fakfak, Domianus Tuturop, sebagai momentum penting yang menjamin kembali toleransi wajah masyarakat Fakfak. Sekber ini tidak hanya menjadi pusat koordinasi pembangunan dua rumah ibadah, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk merawat nilai-nilai adat, budaya, dan kemanusiaan yang telah diwariskan para leluhur.

Dalam kesempatan yang sama, diluncurkan Gerakan “Taruh Harta”, sebuah aksi gotong royong lintas iman untuk mempercepat pembangunan Gereja GKI Bethel Waserat dan Masjid At-Taqwa Saharei.

Gerakan tersebut membawa pesan kebersamaan melalui semangat “Gereja Maghi dan Masigit Maghi” atau “Gereja Kita dan Masjid Kita”, yang menegaskan bahwa kedua rumah ibadah itu bukan hanya menjadi tanggung jawab umat masing-masing, tetapi menjadi bagian dari kepedulian seluruh masyarakat Fakfak.

Sebagai tindak lanjut dari peluncuran Sekber, kegiatan besar Gerakan “Taruh Harta” akan dilaksanakan di Gedung KONI Fakfak pada 14 Juli 2026. Lokasi tersebut dipilih agar mampu menampung antusiasme masyarakat, keluarga adat, tokoh agama, pemerintah daerah, serta para donatur yang ingin mengambil bagian dalam pembangunan kedua rumah ibadah tersebut.

Peresmian Sekber berlangsung penuh kekeluargaan dengan menampilkan panitia pembangunan Gereja GKI Bethel Waserat dan panitia pembangunan Masjid At-Taqwa Saharei, Sekretaris Klasis GKI Fakfak Pdt. Lois Dominicus Tilapori, Ketua Dewan Adat Mbaham-Matta Apnel Hegemur, Pdt. Yusuf Kumur dari Gereja Katolik Klasis Fakfak, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen yang ikut mengawali perjalanan kebersamaan tersebut.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua III DPRK Fakfak, Domianus Tuturop, menegaskan bahwa Sekretariat Bersama harus menjadi rumah kemanusiaan yang terbuka bagi semua orang tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun golongan.

“Ke mana orang bisa berkumpul di tempat ini, manusia dan sebuah rumah masyarakat, siapa pun juga, yang terasa terdiri dari sebagian dari ibadah ini, khusus untuk Masigit Maghi dan Gereja Maghi. Jadi bisa berjalan nanti ke mana-mana,” ujar Wakil Ketua III DPRK Fakfak, Domianus Tuturop.

Ia berharap Sekber dapat menjadi ruang yang menghadirkan rasa memiliki bersama, khususnya dalam menjaga semangat pembangunan dua rumah ibadah tersebut. Domianus juga mengingatkan seluruh anak adat agar tetap memegang teguh nilai-nilai budaya dan celana leluhur serta tidak menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan bersama.

Menurutnya, proses mulia ini harus terus dikawal melalui sinergi masyarakat adat, tokoh agama, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat agar pembangunan kedua rumah ibadah dapat berjalan hingga selesai.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Mbaham-Matta Apnel Hegemur mengajak seluruh pihak untuk berterima kasih atas penyertaan Tuhan serta dukungan para leluhur yang menjadi fondasi kuat dalam perjalanan persaudaraan masyarakat Fakfak.

Ia menegaskan bahwa pembangunan Gereja GKI Bethel Waserat dan Masjid At-Taqwa Saharei bukan hanya tentang membangun bangunan fisik, tetapi juga menghadirkan simbol perdamaian, persatuan, dan kehidupan bersama tanpa sekat agama, suku, maupun ras.

“Kerinduan umat di dua jemaah dan jamaah ini datang pada awal bulan Mei untuk menyampaikan dukungan dan perluasan keagamaan yang ada di Mbaham, juga lembaga kultur yang ada, untuk bersama mengangkat kerinduan menghadirkan simbol kerajaan surga di negeri ini, yaitu maszab-maszab suci,” ungkap Ketua Dewan Adat, Apnel Hegemur.

Ia menjelaskan, proses pendampingan budaya telah dimulai sejak pertengahan Mei 2026. Dewan Adat bersama kedua panitia melakukan prosesi adat Bubu Sedekah pada 15 Mei di Kampung Saharei sebagai langkah awal penggalangan dana sebelum dilanjutkan ke tingkat kota.

“Dewan Adat memulai pendampingan yaitu melakukan proses prosesi pokok atau Bubu Sedekah pada tanggal 15 Mei di Kampung Saharei. Tanggal 15 Mei itu dilakukan oleh kedua panitia untuk bersama-sama melakukan proses pemberian sedekah awal untuk penggalangan dana yang mau dilakukan di kota,” jelasnya.

Menurut Apnel, gerakan lintas iman tersebut memiliki akar sejarah yang kuat dari identitas “Dua Sumber Mata Air” di Kampung masyarakat Rangkendak, yang menjadi bagian dari perjalanan budaya dan persaudaraan Fakfak.

Sekretaris Klasis GKI Fakfak, Pdt. Lois Dominicus Tilapori, menyampaikan rasa bangganya terhadap langkah nyata masyarakat Waserat dan Saharei. Ia menilai apa yang dilakukan tersebut membuktikan bahwa toleransi di Fakfak bukan sekedar slogan, namun hadir melalui tindakan bersama.

“Melalui Dewan Adat, semboyan kita ‘Satu Tungku, Tiga Batu’ bukan sekedar slogan, melainkan diwujudnyatakan. Sesungguhnya ini merupakan sejarah yang telah berjalan dan ditanamkan oleh para leluhur. Saya berjanji karena lewat lembaga-lembaga ini kita mau menghormati adat istiadat budaya kita. Kita Fakfak ini jadi contoh bagi NKRI, bahwa jiwa daripada Pancasila itu ada di Fakfak. Jika satu kegiatan dilakukan untuk dua rumah ibadah, ini sungguh luar biasa,” tegas Pdt. Lois.

Ia juga mengajak insan pers untuk terus menyebarkan kisah persaudaraan tersebut agar menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Sementara itu, Pdt. Yusuf Kumur atas nama Gereja Katolik Klasis Fakfak menyampaikan dukungan terhadap peluncuran Sekretariat Bersama Gereja Maghi dan Masigit Maghi.

Ia mengapresiasi kebersamaan yang dibangun bersama Dewan Adat Mbaham-Matta dan pemerintah daerah sebagai bentuk nyata menjaga nilai luhur kehidupan masyarakat Fakfak.

Menurutnya, momentum ini harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh unsur gereja, lembaga adat, dan masyarakat untuk menyukseskan pelaksanaan Gerakan Gereja Maghi dan Masigit Maghi yang akan dilaksanakan pada 14 Juli 2026 di Gedung KONI Fakfak.

Ia mengajak seluruh warga dan masyarakat Gereja Fakfak untuk mengambil bagian dalam gerakan tersebut sebagai wujud nyata filosofi “Satu Tungku Tiga Batu”.

Pdt. Yusuf menegaskan bahwa nilai luhur yang diwariskan para leluhur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Peresmian Sekretariat Bersama dan Gerakan “Taruh Harta” bukan sekadar tentang pembangunan gereja dan masjid. Lebih dari itu, masyarakat Waserat dan Saharei sedang merawat kembali warisan leluhur yang telah menjadi identitas kehidupan masyarakat Fakfak.

Dari Bumi Mbaham-Matta, pesan persaudaraan kembali disampaikan kepada Indonesia bahwa toleransi sejati tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui kepedulian, gotong royong, dan hati yang tulus.

Ketika Gereja Maghi dan Masigit Maghi berdiri kokoh kelak, keduanya akan menjadi simbol abadi bahwa di tanah Fakfak, perbedaan iman bukanlah dinding pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan dalam semangat “Satu Tungku Tiga Batu”.***

About Amrin Bro

Check Also

Sinergi Polri dan Petani Berbuah Hasil, Jagung Hibrida di Wurkendik Sukses Dipanen

  Pewarta: Amryn Landupa INFOFAKFAK.COM, – Sinergi antara Polsek Fakfak Barat, instansi terkait, dan Kelompok ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *