
Reporter: Sri Mariati
INFOFAKFAK.com, —Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Fakfak, Ibu Nurwidayati Samaun Dahlan, tampil sebagai narasumber dalam acara Retret Latihan Kepemimpinan Persekutuan Wanita se–Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua yang digelar di Fakfak, pada Rabu, 15 Oktober 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Nurwidayati menyampaikan materi dengan tema “Menjadi Perempuan Gereja yang Cerdas, Spiritual, dan Intelektual”. Acara ini menghadirkan para peserta persekutuan wanita dari berbagai wilayah di Papua.
Dalam materinya, Ketua TP-PKK Fakfak menekankan pentingnya peran perempuan dalam membangun keluarga, gereja, dan masyarakat. Ia mengajak para peserta untuk menggunakan teknologi dengan bijak, termasuk media sosial dan gadget, bukan untuk hal yang tidak berguna, melainkan untuk mendukung usaha, pelayanan, dan pemberdayaan keluarga.
“HP dan media sosial itu bisa sangat bermanfaat bila digunakan untuk hal positif, seperti penjualan hasil kerajinan atau menyebarkan hal baik. Tapi jika digunakan untuk hal yang tidak penting, apalagi membuka aib sendiri, itu justru merugikan diri kita sendiri,” ujarnya di hadapan ratusan peserta.
Selain sebagai Ketua TP-PKK, Nurwidayati juga aktif sebagai Ketua Posyandu, Ketua Dekranasda, dan Bunda PAUD Fakfak. Ia menceritakan pengalamannya dalam menjalankan peran sebagai istri Bupati sekaligus tokoh perempuan yang aktif turun langsung ke kampung-kampung.
“Menjadi istri Bupati bukan sekedar mendampingi, tapi harus bisa menjadi berkat. Banyak masyarakat di kampung yang belum mendapat perhatian, dan di situlah saya hadir untuk mendengar dan membantu,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran Posyandu kini tidak hanya sekedar tempat penimbangan balita, tetapi juga menjadi pusat pelayanan kesehatan, sosial, dan pendidikan masyarakat. Ibu Nurwidayati menyebut Posyandu kini menjadi “mata pemerintah” untuk memastikan bantuan dan program tepat sasaran.
Dalam penutup materinya, ia mengajak seluruh perempuan gereja untuk menjadi perempuan yang cerdas dalam membaca situasi, spiritual dalam bertindak, dan intelektual dalam berpikir, sehingga dapat memberi dampak nyata bagi keluarga dan lingkungan.
“Perempuan bukan hanya pendamping, tapi juga pelopor perubahan. Mari kita pakai peran ini untuk membawa terang di tengah masyarakat,” tegasnya.
Acara retret ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas dan kepemimpinan gereja perempuan di Papua, khususnya dalam menghadapi tantangan sosial di era digital.***
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak