Reporter: Amryn Landupa
INFOFAKFAK.COM, – Manajemen Politeknik Negeri Fakfak (Polinef) belakangan ini gencar mempublikasikan langkah-langkah pembenahan internal dan sosialisasi kanal aduan kekerasan seksual. Langkah cepat ini menanggapi skandal yang menyeret mantan Wakil Direktur I berinisial BD.
Namun, di balik sosialisasi Baliho dan seri rilis kehumasan kampus tersebut, ada kenyataan pahit yang luput dari perhatian. Di sebuah rumah yang sunyi, sepasang orang tua korban harus menelan bulat-bulat mengecewakan dan luka batin yang dalam, tanpa pernah menuntut panggung atau publisitas.
Mereka hanya bisa mengusap air mata, lalu membiarkan anak gadis mereka kembali melangkah ke ruang-ruang kuliah. Langkah itu pasti berat, dibayang-bayangi trauma yang belum sepenuhnya hilang. Tapi putri mereka harus tetap jalan, sebab di pundaknya tertumpang doa dan cita-cita keluarga yang runtuh seketika akibat ulah oknum pejabat kampus.
Sikap tenang keluarga korban ini sejatinya menjadi pemikiran telak. Bagi institusi sebesar Polinef, kasus ini mungkin mulai dianggap angin lalu seiring berjalannya aktivitas perkuliahan seperti biasa. Padahal, urusannya bukan hanya soal pelanggaran statistik atau pergantian posisi pejabat. Ada masa depan seorang anak manusia yang hancur dan ingin berharap.
Sejauh ini, publik masih menunggu kejelasan penanganan hukum yang berjalan di kepolisian. Keluarga korban tidak membutuhkan janji manis atau pencitraan. Yang mereka tuntut sederhana: jaminan perlindungan, rasa aman, dan kepastian bahwa hukum ditegakkan tanpa memandang bulu.
Publik tinggal menantikan pembuktian berikutnya. Apakah pembenahan yang digaungkan Polinef benar-benar berpihak pada keadilan korban, atau sekadar meredam opini publik yang terus surut? Waktu yang akan membuktikannya.***
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak
