Home / Fakfak News / Ekonomi / Puluhan Tahun Menanam Harapan, Bantuan Pertanian Belum Pernah Singgah ke Kebun Mama Ludia

Puluhan Tahun Menanam Harapan, Bantuan Pertanian Belum Pernah Singgah ke Kebun Mama Ludia

Mama Ludia Iba saat ditemui Infofakfak.com di Pasar Thumburuni, Fakfak, berjualan hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

 

Reporter: Amryn Landupa

INFOFAKFAK.COM, – Di balik ramainya aktivitas jual beli di Pasar Thumburuni, tersimpan kisah keteguhan seorang perempuan yang puluhan tahun bertahan hidup dari hasil kebunnya sendiri. Mama Ludia Iba, warga Kampung Tetar, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, ditemui InfoFakfak.com di sela aktivitasnya menjual hasil kebun di Pasar Thumburuni. Ia mengaku belum pernah menerima bantuan pertanian dari pemerintah, meski sejak menikah hingga kini terus mengolah kebun untuk menghidupi keluarganya.

Berkebun telah menjadi tumpuan hidup utama Mama Ludia. Dari lahan yang digarap setiap hari, ia menanam berbagai kebutuhan pangan seperti keladi, petatas, pisang, rica, sayur mayur, hingga buah-buahan musiman seperti durian. Seluruh hasil panen tersebut kemudian dibawa ke Pasar Thumburuni untuk dijual guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Setiap musim panen membawa harapan tersendiri. Saat musim buah tiba, Mama Ludia menjual durian bersama hasil kebun lainnya. Sementara itu, rica dipanen sekitar satu kali dalam sepekan dengan hasil mencapai kurang lebih 10 kilogram. Rica dijual seharga Rp10 ribu per tumpuk, sehingga dari hasil penjualan tersebut ia dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp120 ribu, tergantung hasil panen dan jumlah pembeli di pasar.

Di balik hasil panen yang dijual, seluruh proses berkebun dilakukan dengan kemampuan sendiri. Mama Ludia mengaku kebutuhan seperti bibit, pupuk, hingga perawatan tanaman sepenuhnya dibiayai dari hasil jerih payahnya tanpa pernah menerima bantuan dari pemerintah.

“Sejak menikah saya sudah berkebun. Bibit dan pupuk saya beli sendiri. Sampai sekarang belum pernah dapat bantuan,” ungkapnya.

Mama Ludia merupakan orang tua tunggal yang membesarkan lima orang anak. Satu di antaranya kini sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah. Meski beban hidup tidak ringan, ia tetap memilih bekerja dan tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berusaha.

Sambil tersenyum, ia mengatakan, “Kalau kita usaha sendiri, kita nikmati hasilnya. Yang penting tetap semangat kerja.”

Rutinitasnya hampir tidak pernah berubah. Setiap hari ia menempuh perjalanan dari Kampung Tetar menuju Pasar Thumburuni dengan membawa hasil kebun yang siap dijual. Perjalanan itu telah menjadi bagian dari kehidupannya selama bertahun-tahun, sebagai upaya mempertahankan ekonomi keluarga dari hasil tanah yang diolah dengan tangannya sendiri.

Kisah Mama Ludia menjadi potret bahwa masih ada petani kecil di Fakfak yang belum merasakan manfaat program pertanian secara langsung. Padahal, pemerintah melalui berbagai program terus berupaya meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan kesejahteraan petani.

Pengakuan Mama Ludia pun memunculkan pertanyaan yang layak menjadi bahan evaluasi. Ketika petugas rutin melakukan kunjungan ke lapangan, sejauh mana hasil pendataan tersebut benar-benar ditindaklanjuti hingga menyentuh petani yang membutuhkan, atau bagaimana tindak lanjut atas hasil kunjungan tersebut di lapangan? Pertanyaan ini penting untuk memastikan bahwa kehadiran program pemerintah benar-benar memberikan dampak nyata bagi petani di kampung-kampung.

Program pertanian sejatinya tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari manfaat yang diterima masyarakat. Sebab, bagi petani kecil seperti Mama Ludia, bantuan bibit, pupuk, maupun pendampingan bukan sekadar program tahunan, melainkan harapan untuk meningkatkan hasil panen dan memperkuat ekonomi keluarga.

Mama Ludia mungkin hanya satu dari sekian banyak petani yang masih berjuang dengan kemampuannya sendiri. Di balik setiap ikat rica, tandan pisang, keladi, hingga durian yang dibawanya ke pasar, tersimpan harapan sederhana agar perhatian terhadap petani kecil benar-benar hadir di tengah masyarakat. Sebab, bagi mereka yang setiap hari menanam dan merawat tanaman dengan penuh kesabaran, bantuan bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan bukti nyata bahwa perhatian terhadap petani kecil benar-benar dirasakan di lapangan.

About Amrin Bro

Check Also

Kodim 1803/Fakfak Gelar Bakti Kesehatan, Dandim: Sehat Adalah Modal Utama Membangun Masyarakat

  Pewarta: Amryn Landupa INFOFAKFAK.COM, – Kodim 1803/Fakfak menggelar Bakti Kesehatan berupa layanan pemeriksaan kesehatan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *