
Penulis : Addieni Satyaning Gusti MH
“Satu Tungku Tiga Batu” adalah filosofi terkenal yang berasal dari Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.
Filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” merupakan dasar kerukunan yang memberikan gambaran mengenai tiga agama yang ada di Kabupaten Fakfak, yakni : Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” ini diketahui sebagai pengejawatan filsafat hidup dari suku Mbaham Matta yaitu “Ko, On, Kno, Mi Mbi Du Qpona” yang berarti “Kau, Saya dan Dia Bersaudara”. Filosofi ini diwariskan secara turun temurun yang kemudian pada tahun 1990-an ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai filosofi Kabupaten Fakfak.
Tiga agama yang ada di Kabupaten Fakfak yaitu Islam, Kristen Protestan dan Katolik dianggap sebagai agama keluarga. Dan filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” ini digunakan untuk mempererat keharmonisan antar umat beragama yang ada di Kabupaten Fakfak yang juga dikenal sebagai Kota Pala.
Oleh karenanya, kerukunan yang tampak dari masyarakat Fakfak merupakan timbal balik dari filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang memiliki makna kesatuan, kesehatian, dan saling menopang dalam berkarya.
Masyarakat Fakfak hidup berdampingan dengan keberagaman agama adalah sebuah fakta yang tidak terelakkan. Masyarakat Fakfak dalam realitas kehidupan bermasyarakatnya, menganggap bahwa, hidup berdampingan dengan agama lain bukanlah suatu masalah. Terlebih masyarakat Fakfak berpegang pada filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang mencerminkan toleransi antar umat beragama.
Toleransi beragama pada masyarakat Fakfak tampak pada kekompakan masyarakat yang saling bahu-membahu dalam acara keagamaan. Dalam pembangunan rumah ibadah, masyarakat Fakfak akan saling bergotong royong tanpa memandang agama. Bahkan hingga kini, untuk membangun sebuah masjid atau gereja, dalam susunan panitia pembangunannya, pasti terdapat panitia yang berbeda agama.
Sebagai bukti konkret mengenai toleransi beragama di Fakfak adalah berdirinya Masjid Patimburak yang berada di Kecamatan atau Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak.
Masjid Patimburak diperkirakan dibangun pada tahun 1870 oleh Imam yang bernama Abuhari Kilian. Masjid Patimburak dianggap sebagai masjid tertua yang ada di Fakfak. Meski saat ini, Majelis Ulama Indonesia atau MUI Provinsi Papua Barat bersama LIPI, sedang mendalami sejarah masuknya Islam di tanah Papua, dimana diperkirakan, masuknya Islam di tanah Papua khususnya di Kabupaten Fakfak, diperkirakan terjadi pada awal abad ke-16, jauh sebelum dibangunnya Masjid Patimburak tersebut.
Sebagai perbandingan, agama Katolik ditetapkan masuk di Kabupaten Fakfak pada tahun 1894 atau 128 tahun lalu, dan baru diperingati pada 22 Mei 2022 lalu.
Masjid Patimburak memiliki arsitektur yang unik, karena memiliki perpaduan bentuk masjid dan gereja. Masjid Patimburak menjadi wujud filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” di Fakfak karena Masjid Patimburak ini dibangun secara gotong royong oleh warga, baik yang beragama Islam maupun Kristen Protestan atau Katolik.
Masjid Patimburak adalah salah satu peninggalan sejarah Islam di Kabupaten Fakfak yang juga dikenal dengan sebutan sebagai Kota Serambi Mekahnya Papua.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa, awal mula peradaban masuknya Islam di Fakfak adalah dengan dibangunnya masjid ini. Adapun bentuk bangunan masjid ini tidak lepas dari ajaran Islam. Seperti pada bangunannya yang berbentuk segi enam melambangkan rukun iman sebagai pondasi beragama. Alas kubah persegi delapan yang melambangkan delapan arah mata angin dan mata angin barat ditandai dengan mihrab sebagai kiblat salat.
Dengan adanya toleransi beragama yang diwujudkan dalam filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang dipupuk sejak dulu, maka agama Islam di tanah Papua khususnya di Kabupaten Fakfak, berkembang dengan baik. Kini, mayoritas penduduk Kabupaten Fakfak beragama Islam. Bahkan, penduduk asli Kabupaten Fakfak yakni suku Mbaham Matta, mayoritas beragama Islam. ***
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak