
Sampah yang disetor nasabah, ditimbang dan dibukukan
Sorong_ Kalau kita mendengar kata sampah, maka kesan pertama di benak kita adalah barang kotor dan menjijikkan. Ya, ini merupakan anggapan orang pada umumnya. Namun, bagi sebagian orang, bisa berbeda.
Tuntas mengikuti Uji Kompetensi Wartawan, yang merupakan hasil kerjasama SKK Migas dan KKKS Wilayah Papua dan Maluku dengan LPDS (Lembaga Pers Dr. Soetomo), 24 wartawan yang terbagi dalam dua bus, berkesempatan melihat langsung aktivitas di “Bank Sampah” itu.
Ibu Ernita, warga Kampung Klamono, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, merupakan salah satu dari puluhan nasabah bank sampah binaan Pertamina Sorong. Nasabah, adalah istilah bagi orang-orang yang memiliki kegiatan mencari, mengumpulkan, dan akhirnya menyetorkan sampah tersebut ke bank sampah. Serupa dengan aktivitas bank pada umumnya.
Tak seperti bank pada umumnya yang full AC dan memiliki gedung nan megah, bank sampah yang berlokasi di samping Kantor Kampung Klamono ini, menempati gedung yang belum digunakan.
Selama tiga minggu, Ibu Ernita keliling kampung untuk mencari dan mengumpulkan sampah. Sampah tersebut harus disimpan dahulu, sebab bank sampah hanya buka sekali dalam sebulan.
Pagi tadi, Kamis (3/11) yang cukup sejuk, Ibu Ernita bersama beberapa ibu-ibu rumah tangga, dengan menggunakan gerobak, menyetorkan sampah yang telah dikumpulkannya itu.
“Ini sampah sudah saya kumpulkan tiga minggu, dan baru hari ini saya setorkan. Nanti setelah ditimbang, baru diketahui, berapa uang yang saya dapat,” ujar Ibu Ernita. “Tapi katanya, uangnya baru Desember cair. Saya berharap, uang tersebut dapat membantu menambah uang keperluan rumah tangga kami,” tambahnya.
Ibu Ernita, mengaku sudah menyetorkan sampah plastik, kaleng oli, kertas, serta sampah berguna lainnya, sebanyak dua kali.
Pagi tadi, memang jadwal bank sampah buka operasi. Kedatangan Ibu Ernita dan teman-temannya tersebut, disambut Ibu Merry dan Yunita, yang menjadi “menejer” dan “staf” bank sampah tersebut.
Dengan telaten, sampah-sampah yang disetorkan tersebut lantas ditimbang dan dibukukan. Seperti bank umumnya, bank ini juga menerbitkan buku tabungan yang mencatat nilai dana yang akan diterima nasabah nantinya.
“Bank kami baru buka dua bulan ini. Jadi, ini kali kedua kami menerima setoran sampah dari masyarakat. Sampah yang terkumpul sudah lebih dari 1.500 kg,” kata Ibu Merry.
Menurut Ibu Merry, ada perubahan positif di lingkungan Kampung Klamono. Sampah-sampah yang biasanya berserakan dimana-mana, kini jauh berkurang. Kesadaran warga untuk membersihkan dan melestarikan lingkungan, terpacu dengan adanya bank sampah yang dibina Pertamina Sorong tersebut.
“Lingkungan semakin bersih. Beda dengan sebelum ada bank sampah,” kata Ibu Merry sembari melayani nasabahnya.
Dijelaskan oleh Ibu Merry, bank sampah yang dikelolanya, membuka 2 unit, yakni di Klamono sendiri, dan di Kalsafet.
“Kini nasabahnya cukup banyak. Meski baru dua bulan, untuk bank sampah unit Kalmono sudah memiliki 29 nasabah. Sedangkan di unit Klasafet memiliki 35 nasabah,” tambahnya.
Untuk pencairan dana bagi nasabah, Ibu Merry menjelaskan bahwa, nasabah akan menerima dananya setiap tiga bulan sekali. Besarnya dana yang diterima masing-masing nasabah tentu berbeda. Hal ini tergantung dari jenis sampah yang disetor, serta berapa beratnya.
Ternyata, barang dengan nilai tertinggi adalah tembaga. Logam ini bisa bernilai lebih dari 30.000/kg. Sedangkan sampah kertas, bernilai ratusan rupiah saja. Maka, semakin rajin nasabah mengumpulkan sampah, maka semakin banyak uang yang dikantonginya.
Kesadaran pentingnya kebersihan, ternyata bisa mendatangkan uang. Nah, siapa yang tak mau uang? Kotor sedikit, tidak mengapa, lah!
Bagaimana di Fakfak? (Wahyu Hidayat)
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak