Breaking News
Home / Headline / Dari Fakfak, Harapan Kembalinya Yesuit ke Tanah Awal Misi Katolik Papua

Dari Fakfak, Harapan Kembalinya Yesuit ke Tanah Awal Misi Katolik Papua

Refleksi 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua menghadirkan harapan umat Katolik Fakfak agar Serikat Yesus kembali hadir di tanah awal misi Katolik Papua. 

 

Pewarta: Amryn Landupa

INFOFAKFAK.COM, – Fakfak kembali menjadi pusat refleksi sejarah perjalanan Gereja Katolik di Tanah Papua dalam rangkaian kegiatan Pendalaman dan Kesaksian Iman 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua yang berlangsung di Graha Le Cocq d’Armandville, Selasa 19 Mei 2026.

Dalam kegiatan tersebut, mengemuka harapan masyarakat dan umat Katolik agar Serikat Yesus (Jesuit/Yesuit) dapat kembali membuka dan melanjutkan pelayanan di wilayah Fakfak yang berada dalam wilayah Keuskupan Manokwari–Sorong.

Harapan itu muncul karena masyarakat menilai para misionaris Yesuit merupakan pelaku sejarah awal masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua melalui karya misi Pastor Cornelis Johann Le Cocq d’Armandville bersama rekan-rekan misionaris lainnya.

Bagi umat Katolik di Fakfak, kehadiran para misionaris Jesuit pada masa awal bukan hanya membawa pelayanan iman dan pewartaan Injil, tetapi juga membuka jalan bagi perkembangan pendidikan di Tanah Papua. Karena itu, semangat pelayanan tersebut dinilai penting untuk kembali dihadirkan di wilayah yang memiliki nilai sejarah besar bagi Gereja Katolik Papua.

“Masyarakat berharap Serikat Yesus dapat kembali hadir di Fakfak untuk melanjutkan warisan pelayanan iman dan pendidikan yang pernah dirintis para misionaris awal,” ungkap salah satu peserta kegiatan.

Sejarah mencatat Pastor Le Cocq d’Armandville tiba di Fakfak pada tahun 1894 dan melakukan pembaptisan pertama di Kampung Sekru pada 22 Mei 1894. Kehadirannya kemudian menjadi tonggak awal berkembangnya misi Katolik sekaligus pendidikan modern di Tanah Papua.

Pada tahun 1895, Pastor Le Cocq kembali ke wilayah pantai Raudia, Fakfak, bersama dua Bruder Jesuit dan seorang guru katekis bernama Christianus Palletimu. Di Pulau Bonyom, Distrik Fakfak Tengah, mereka mendirikan pos misi sekaligus sekolah Katolik pertama di wilayah tersebut.

Sekolah itu menjadi awal pendidikan formal bagi anak-anak setempat melalui pengajaran membaca, menulis, dan pendidikan iman.

Namun karya misi tersebut tidak berlangsung lama setelah Pastor Le Cocq d’Armandville wafat akibat tenggelam pada tahun 1896. Sejak saat itu, pelayanan Serikat Yesus di Fakfak tidak berlanjut secara langsung, sementara karya Jesuit kemudian berkembang di sejumlah wilayah lain di Papua.

Dalam sesi dialog kegiatan tersebut, RD. Izaak Bame menyampaikan harapan umat Fakfak agar Serikat Yesus suatu saat dapat kembali berkarya di wilayah tersebut. Harapan itu disampaikan kepada Romo J. Sudrijanta, SJ yang mengikuti kegiatan melalui Zoom mewakili Provinsial Serikat Yesus Provinsi Indonesia.

“Atas nama masyarakat umat Katolik Fakfak, kami berharap suatu saat Serikat Yesus dapat kembali hadir di Fakfak. Karena tempat awal karya Pastor Le Cocq justru tidak lagi diteruskan langsung oleh Yesuit sendiri, walaupun kemudian berkembang di wilayah lain seperti Timika, Waghete, dan Nabire,” ujar RD. Izaak Bame.

Menurut umat, Fakfak memiliki posisi penting dalam sejarah Gereja Katolik di Papua karena menjadi salah satu titik awal masuknya misi Katolik yang dibawa para misionaris Jesuit. Oleh sebab itu, masyarakat berharap pelayanan Jesuit di Papua tidak hanya berpusat di wilayah Keuskupan Timika, khususnya Kabupaten Nabire dan wilayah pedalaman lainnya, tetapi juga dapat kembali hadir di Fakfak dalam wilayah Keuskupan Manokwari–Sorong.

Menanggapi harapan tersebut, Romo J. Sudrijanta, SJ menjelaskan bahwa kehadiran Serikat Yesus di suatu wilayah pada prinsipnya selalu berdasarkan undangan resmi dari Gereja setempat, khususnya pihak keuskupan.

“Kalau memang ada undangan resmi, tentu pihak keuskupan dapat berbicara langsung dengan pimpinan kami, yaitu Provinsial Serikat Yesus,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa jumlah anggota Serikat Yesus di Indonesia saat ini masih terbatas sehingga perlu mempertimbangkan kesiapan tenaga pelayanan untuk wilayah Papua yang sangat luas.

Selain pelayanan pastoral, umat Katolik Fakfak juga berharap karya pendidikan Jesuit dapat kembali berkembang di wilayah tersebut. Selama ini, Serikat Yesus dikenal memiliki perhatian besar dalam bidang pendidikan, pembinaan generasi muda, dan pengembangan sumber daya manusia Orang Asli Papua.

Karya pendidikan Jesuit di Papua antara lain terlihat melalui pengelolaan Kolese Le Cocq d’Armandville, SMA YPPK Adhi Luhur, pelayanan asrama pendidikan, hingga pendampingan masyarakat di wilayah pedalaman Papua seperti Waghete dan Nabire.

Secara nasional, karya pendidikan Jesuit berada dalam jaringan Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia yang mengelola berbagai lembaga pendidikan dan pembinaan karakter di Indonesia.

Bagi umat Katolik Fakfak, kehadiran kembali Serikat Yesus di tanah bersejarah tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya melanjutkan warisan sejarah iman, pendidikan, dan pelayanan kemanusiaan yang telah dirintis sejak awal masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua.***

About Amrin Bro

Check Also

Uskup Timika Tekankan Persatuan dan Waspada Penipuan Digital di Misa Keluarga Maybrat Fakfak

  Pewarta: Amryn Landupa INFOFAKFAK.COM, – Uskup Timika, Bernardus Bofitwos Baru, mengajak masyarakat Maybrat untuk ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *