Home / Headline / Terungkap, Manusia Fakfak Telah Ada Sejak 10.000 Tahun Silam

Terungkap, Manusia Fakfak Telah Ada Sejak 10.000 Tahun Silam

Para jawara lomba menggambar Rock art. (Foto : Jojie)

Reporter : Jojie Matitaputty
Editor : Wahyu Hidayat

INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Jejak peradaban manusia Fakfak, diyakini telah ada sejak 10.000 tahun silam. Hal ini disampaikan oleh Drs. Gusti Made Sudarmika, Kepala Balai Arkeologi Papua kepada infofakfak.com, Selasa, 2 November 2021, di Taman Satu Tungku Tiga Batu, Fakfak, Papua Barat, saat Balai Arkeologi Papua menggelar “Rumah Peradaban”

“Pada Teluk Berau sampai Mbahamdandara, merupakan cikal bakal peradaban masyarakat Fakfak. Hal ini terbukti dari hasil penelitian kami bahwa, sejak 10.000 tahun yang lalu sudah ada kehidupan masyarakat disana,” jelasnya. “Penemuan-penemuan artefak seperti tulang, batu, kulit kerang  banyak ditemukan di sana,” tambahnya.

Selanjutnya Gusti Made Sudarmika menjelaskan, arkeologi di Kabupaten Fakfak cukup lengkap.  Dalam pengertian, mulai dari peradaban awal manusia, ada.  Sejak era prasejarah sampai masa kolonial  pun ada. Ini adalah kekayaan yang luar biasa, yang perlu kita jaga. Oleh karena itu, hal tersebut perlu kita pahami dan mengenal, sehingga kita terdorong untuk menjaganya.

“Saat ini, artefak-artefak yang ditemukan disimpan di Balai Arkeologi Papua. Namun jika Pemerintah Daerah berkenan mendirikan museum, maka barang-barang tersebut akan kami berikan kepada Pemerintah Daerah,” ujarnya.

Senada, seorang peneliti lain, Sri Sukandar menjelaskan, “Fakfak sangat unik. Saya sudah meneliti di wilayah fakfak sejak tahun 2012. Saat itu saya menjadi ketua tim penelitian untuk penggalian  di Goa Sosoraweru, Kampung Furir. Kemudian ditahun 2013 saya melakukan penelitian tentang arkeologi Islam, antara lain di Kampung Patipi Pasir dan Kampung Patipi Pulau, serta di Masjid Patimburak. Selanjutnya, tahun 2018, saya ikut menjadi anggota tim penelitian pengalian Goa Sosoraweru. Tahun 2021 ini, saya menjadi anggota untuk penelitian gambar-gambar cadas di kawasan Teluk Berau,” urainya.

Dalam penelitian di Goa Andarewa, Sri Sukandar bersama tim, menemukan banyak artefak diantaranya kapak batu, frakmen gerabah fan sisa-sisa makanan berupa cangkang kerang. Juga ditemukan alat-alat yang terbuat dari tulang hewan, perhiasan dari tulang.

“Sayang, ciri-ciri manusianya sendiri, belum teridentifikasi, sehingga belum bisa dipastikan asal muasal manusia di tempat itu,” ujarnya.

Hal lain diungkap Hari Suroto, peneliti arkeolog senior, yang menyoal adanya gambar Boomerang di Teluk Berau.

“Di Teluk Berau, kami banyak menemukan lukisan ditembok-tembok goa (rock art istilah dalam arkeologi). Salah satu lukisan uniknya yaitu boomerang. Kita tahu, boomerang adalah senjata terkenal dari Suku Aborigin di Australia, sedangkan di Papua sendiri tidak mengenal boomerang sebagai senjata. Kesimpulannya, budaya yang berkembang pada masa 10.000 tahun yang lalu, tidak lepas dari rendahnya permukaan air laut antara Australia dan Pulau Nugini (Pulau Papua keseluruhan). Hal ini mengakibatkan banyaknya flora dan fauna serta manusia migrasi dan memungkinkan terjadinya pertukaran informasi sehingga terdapat gambar boomerang pada dinding tembok,” ungkapnya.

Di sisi lain, dalam kegiatan “Rumah Peradaban” diadakan lomba mengambar Rock Art  (lukisan pada dinding goa) yang diikuti oleh 6 SMP.

Dari lomba tersebut, SMP Negeri 1 Fakfak yang diwakili Muh. Rafi dan Al Ghazali, mendapat peringkat harapan III.  Peringkat harapan II diraih siswa SMP Negeri 2  Fakfak, yaitu Derlince dan Janiba. Sedangkan SMP PGRI Fakfak yang diwakili oleh Nayela dan Aprianti menempati posisi peringkat harapan I

Peringkat III, dimenangkan  oleh MTS Negeri Fakfak atas nama Rifai dan Rara.  Sedangkan peringkat II dimenangkan oleh SMP Negeri 3 Fakfak yang diwakili oleh Marina dan Clarita. Sebagai puncak, prringkat pertama diraih oleh SMP YPPK St. Don Bosco Fakfak yang diwakili oleh Michele dan Ivana.

Kepada para pemenang, panitia memberikan penghargaan berupa piala.

Panitia lomba, Yanirsa Sendana menungkapkan, lomba tersebut menggunakan teknik stensil yang merupakan teknik cetakan, dimana sudah ada pola yang kita buat kemudian dua pola tersebut menghasilkan bagian negatif dan positif, sehingga bisa dibandingkan.

Tujuan membuat rock art ini adalah agar generasi muda di Fakfak lebih mengenal dan mencintai hasil penelitian arkeologi di daerahnya sendiri dan kedepan, anak-anak muda ini bisa berkreasi dengan menggambarkan rockart dalam format mural dan lainnya.” Pungkasnya. ***

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Reog, Kuda Lumping dan Campursari “Sedot” 802 Orang Ikut Vaksinasi

Reporter : Sri Maryati Editor : Wahyu Hidayat INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Berbagai upaya yang dilakukan pihak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *