Home / Fakfak News / Ekonomi / Kawasan Reklamasi, Bagai Lampu Bagi Laron

Kawasan Reklamasi, Bagai Lampu Bagi Laron

Timbunan baru yang memunculkan pertanyaan
Timbunan baru yang memunculkan pertanyaan

Fakfak_ Kawasan reklamasi di Jl. Dr. Salasa Namudat sepanjang lebih kurang 1,5 km, kini semakin menarik. Berlapis harapan dari banyak pihak, tertumpah di lahan uruk yang menimbun pantai di samping Pelabuhan Fakfak itu.

Sebagai lahan timbunan, dulunya kawasan ini adalah laut. Tentu saja belum banyak pihak yang melirik lokasi ini. Setelah ditimbun dan dibangun beberapa bangunan megah, seperti ruko dan bank, barulah daya tarik lokasi yang disebut juga dengan Jalan Baru ini, mulai diminati orang. Jika dulunya “tak ada yang punya”, kini “sudah ada empunya”.

Jalan Baru sempat redup ketika warung-warung yang menjadi nadi ekonomi itu, digusur sehingga lokasi itu menjadi sepi. Warung-warung yang kebanyakan menyajikan hidangan hasil laut itu, akhirnya pindah “berhamburan” di beberapa tempat. Jadilah jalan Baru yang sepi. Sepinya Jalan Baru ini dimanfaatkan banyak setan berwujud manusia, mengumbar mesum hingga larut malam.

Bahkan, aparat gabungan Satpol PP dan Sub Denpom Fakfak, main kejar-kejaran dengan “pengunjung” malam di lokasi itu.

“Kami akan merazia secara rutin, agar lokasi ini tidak dijadikan tempat mesum,” kata Kepala Satpol PP, Arif Rumagesan, saat itu.

Kini, tak kurang Penjabat Bupati Fakfak, Oktavianus Mayor tertarik lokasi ini dan ingin membangun monument “Satu Tungku Tiga Batu”. Tak ketinggalan, Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Fakfak, juga ingin menyulap lokasi ini menjadi area rekreasi edukasi.

Teranyar, timbunan Jalan Baru bertambah dengan adanya timbunan baru sepanjang lebih kurang 70 meter dan lebar 10 meter. Di lokasi ini, kini banyak muncul warung kuliner. Masyarakat mulai datang, bagai laron melihat cahaya lampu.

Namun, keberadaan timbunan baru itu, sempat memunculkan pertanyaan dari Kajari Fakfak, Rilke Jeffry Huwae, SH. MH.

“Saya belum tahu, dana timbunan itu dari anggaran mana. Saya juga perlu tahu, apakah timbunan itu sudah direncanakan. Jika ditimbun oleh pengusaha, saya kuatir itu menjadi “tiket balas budi” dan bisa saja termasuk gratifikasi. Tentu keingintahuan seorang penegak hukum, bukan untuk menghambat pembangunannya. Tetapi, transparan itu harus,” tegas Jeffry.

Nah, ada yang bisa menjawab? (wah)

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Bupati Fakfak Hadiri Raja Ampat Festival 2021

Reporter : Wahyu Hidayat INFOFAKFAK.COM, RAJA AMPAT_ Bupati Fakfak, Untung Tamsil, S.Sos., M.Si., menghadiri Raja ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *