Home / Headline / Kondom, Antara Kejujuran dan Doktrin

Kondom, Antara Kejujuran dan Doktrin

Amankan Untuk Kita?

 

Bisa dipastikan, jika berbicara masalah HIV/AIDS, kondom selalu disebut sebagai ‘barang sakti’ yang mampu menangkal masuknya virus HIV ke dalam tubuh. Kondom memiliki ‘rating’ tertinggi untuk urusan penyakit yang biasanya, berawal dari urusan tetangga perut dan perilaku menyimpang lainnya itu.

 

Masalah keamanan kondom masih menjadi polemik, bukan hanya di Indonesia saja. Kondom juga masih menjadi polemik, bukan hanya seputar urusan agama. Bahkan, ilmu pengetahuan modern pun menyisakan ruang bagi kondom untuk diperdebatkan.

 

Dua pakar Indonesia, memiliki pemikiran yang 3800 bertolak belakang. Menteri Kesehatan, Nafasiah Mboi, menyatakan bahwa, kondom versi sekarang tidak berpori, sehingga aman digunakan untuk mencegah kehamilan dan virus HIV/AIDS.

 

Mengutip dari media online Arrahmah.com edisi 02 Desember 2013, Nafasiah Mboi mengatakan, “Bila dipakai dengan tepat, benar dan konsisten, sangat efektif, hampir 100%. (Karena, red) sekarang yang dipakai adalah kondom dari latex yang tidak berpori, dan makin banyak bukti-bukti yang menunjukkan efektivitas kondom untuk pencegahan penyakit maupun kehamilan yang tidak direncanakan,” ujarnya, sebagaimana dilangsir oleh mediaumat.com, sehari sebelumnya.

 

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Dadang Hawari, seorang psikiater kondang, menepis pernyataan Menteri Kesehatan tersebut. Menurut profesor Dadang Hawari, latex sebagai bahan pembuatan kondom merupakan barang berpori-pori. Yang tidak berpori itu namanya plastik.

 

“Saya bisa pastikan salah besar! Karena kondom dibuat dari latex, berarti berserat berpori-pori. Kalau tidak berserat dan tidak berpori-pori itu dari plastik. Ukuran pori-porinya 1/60 mikron, kecil sekali. Kondom dirancang untuk Keluarga Berencana, untuk mencegah sperma. Sedangkan ukuran virus dibanding ukuran sperma adalah 1/450 kali lipat. Jadi, virus HIV sangat kecil sekali dibanding sperma yang bentuknya seperti kecebong itu.” Jelas Dadang Hawari.

 

Dikatakan oleh dadang Hawari, berdasarkan penelitian di Indonesia 5 tahun yang lalu untuk KB saja, kondom dinyatakan gagal 20 persen. Sedangkan penelitian di Amerika, didapati 1/3 yang  beredar di pasar, bocor. Dan semacam Badan POMnya Amerika tahun 2005, kondom tidak dikampayekan lagi, karena mulai gagal. Kondom untuk sperma bukan untuk virus HIV yang sangat kecil.

 

Lebih jauh, Profesor Dadang Hawari dalam bukunya, Global Effect HIV/AIDS, ternyata secara Ilmiah, kondom 100% tidak aman sebagai media pencegah HIV/AIDS.

 

Berikut ini 17 kontroversi kondom yang selama ini diperdebatkan, sebagaimana dirilis oleh voa-islam.com pada 21 September 2014, bersumber dari Prof Dr dr Dadang Hawari, Psikiater (Global Effect HIV/AIDS; Dimensi Psikoreligi,2012) ;

  1. Januari Januari hingga Juni 2013, diketahui jumlah orang yang terinfeksi HIV mencapai 10.210 orang. 780 orang terinveksi AIDS dan 105 orang telah meninggal.

Kondom terbuat dari bahan latex (karet), bahan ini merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berati mempunyai serat dan berpori-pori. Disamping itu, karena proses pembuatan pabrik, kondom juga memiliki lubang cacat mikroskopis atau “pinholes”.

  1. Penelitian yang dilakukan oleh Lytle, et. al. (1992) dari Division of Life Sciencies, Rockville, Maryland, USA, membuktikan bahwa penetrasi kondom oleh pertikel sekecil virus HIV/AIDS dapat terdeteksi.
  2. Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh Cary, et. al (1992) dari Division of Pshysicial Sciences, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV/AIDS dapat menembus kondom. Kondom yang beredar di pasaran 30% bocor.
  3. Direktur Jenderal WHO, Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektifitas kondom diragukan
  4. Pernyataan J. Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom (bebas bocor) hanya 70%.
  5. Dalam konferensi AIDS Asia Pasifik di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa, pengguna kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikro dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaaan meregang pori-pori tersebut mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa, virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.
  6. Laporan dari majalah Customer Report(1995) menyatakan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan elektron mikroskop dapat dilihat pori-pori kondom yang 10 kali lebih besar dari  virus HIV (Rep.1/11/95).
  7. Pernyataan dari M. Potts (1995), Presiden Family Health Internasional, salah satu pencipta kondom mengakui antara lain bahwa, “Kami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini memakai kondom, sama saja artinya menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya” (Rep. 12/11/95).
  8. Pernyataan dari V. Cline (1995), Profesor Psikologi dari Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa, memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainya, berarti mereka telah tersesat (Rep. 12/11/95).
  9. Pernyataan pakar AIDS, R. Smith (1995), telah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan pengguna kondom, mengancam mereka yang telah menyebarkan safe sex sama saja dengan mengundang kematian. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Rep.12/11/95)
  10. Di Indonesia pada 1996 yang lalu, kondom yang diimpor dari Hongkong ditarik dari peredaran karena 50% bocor.
  11. Tingkat keamanan kondom (bebas kebocoran) di negara-negara berkembang rata-rata hanya 70%. Kondom terbuat dari latex yang peka terhadap sinar (matahari dan lampu), oksigen dan kelembaban. Umur pakai kondom hanya 5 tahun. Dikhawatirkan, banyak kondom yang diimpor dari luar negri yang melewati batas waktunya. Penyimpanan yang tidak hati-hati dapat menyebabkan kondom berjamur, robek bahkan copot sama sekali. Kalau diamati penyimpanan kondom di apotik-apotik yang sering diletakkan di bawah lampu neon. Keadaan bertambah gawat kalau penyimpanan di gudangnya kurang hati-hati atau kurang teliti, misalnya diletakkan di lantai. Namun terdapat fakta yang lebih memprihatinkan, yaitu orang membeli kondom justru di pinggir jalan. Dari berbagai penelitian di Indonesia menunjukan, orang membeli kondom di penjual rokok atau jamu atau kios obat kaki lima. Dari 10 orang orang petualang seks, 3 orang kemungkinan tidak aman dari serangan HIV/AIDS karena itu seks yang aman adalah hanya dilakukan dengan pasangan yang sah. (Lubis, F.,1996)
  12. Gereja Katolik (Vatikan) menyerukan kepada masyarakat bahwa, kondom tidak melindungi seorang dari ketularan virus HIV/AIDS. Selanjutnya sebagaimana dikemukakan oleh Kim Barnes (2003) dari BBC London, menyatakan bahwa, cara terbaik agar terhindar dari virus HIV/AIDS adalah abstinentia, yaitu tidak melakukan hubungan seks di luar nikah.
  13. Alfonso Lopez Trujillo (2003) seorang Kardinal senior dari Vatikan, menyatakan virus HIV/AIDS dapat menembus dinding kondom, kecilnya virus HIV 1/450 lebih kecil dari sperma. Sperma saja masih bisa menembus lapisan kondom, apalagi virus HIV.
  14. Sejak kondom mudah diperoleh, penyebaran virus HIV/AIDS menjadi semakin melesat dengan pesat. Disimpulkan bahwa, kondom membantu penularan penyebaran HIV/AIDS, demikian dikemukakan oleh Archbishop of Nairobi (Raphael Ndingi Nzeki, 2003).
  15. Gordon Wambi (2003) seorang aktivis AIDS menyatakan ketidaksetujuan pemakaian kondom. Hal ini sesuai dengan Vatikan’s Pontifical Council for Familiyyang menyerukan kepada pemerintah agar tidak menganjurkan pemakaian kondom kepada rakyatnya: kampanye kondom sama saja kampanye rokok, bahanya sama.
  16. Selanjutnya Gereja Katolik menganjurkan kepada salah satu pasangan suami istri yang terinfeksi, untuk tidak menggunakan kondom, sebab virus HIV bisa menembus pada pasangan yang lain. Dewasa ini dunia sedang menghadapi global pandemic HIV/AIDS yang telah menewaskan lebih dari 20 juta orang dan menginfeksi 42 juta orang.

 

Pendapat dan data para pakar, tentu layak menjadi pertimbangan bagi kita. Hanya saja, jujur harus kita akui, sebuah informasi jika telah menjadi program pemerintah, maka akan ramai-ramai diperjuangkan, sehingga seakan-akan menjadi sebuah kebenaran mutlak. Dan, terserah kita, berpikir dan bertindak jujur, ataukah mengikuti sebuah doktrin? (Wah)

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Testimoni Esther Ginuni, Penyandang ODHA Yang Luar Biasa

Fakfak_ Diakhir pelatihan HIV/AIDS bagi para wartawan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *