
Reporter : Annisa Mirandra
INFOFAKFAK.COM, – Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat bekerja sama dengan KPHP Unit VI Fakfak menyelenggaran kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Masyarakat dalam Hilirisasi Produk Kulit Masohi di Kampung Puar, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak. Jumat, 24 April 2026
Kegiatan ini didanai melalui program FOLU Net Sink sebagai bagian dari upaya penguatan ekonomi masyarakat berbasis hasil hutan.
Selain pelatihan, Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat bersama KPH Wilayah VI Kabupaten Fakfak juga menyerahkan bantuan sarana pendukung ekonomi produktif kepada kelompok tani hutan weruper kampung puar.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Jimmy W. Susanto, S.Hut., M.P, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas kepada masyarakat, khususnya Kelompok Tani Hutan (KTH), dalam mengelola hasil hutan kayu maupun non-kayu. Salah satu fokus utama adalah pengolahan kulit masohi menjadi minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraannya. Selain itu, hilirisasi produk ini juga diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), baik di Kabupaten Fakfak maupun Provinsi Papua Barat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga dan memanfaatkan peralatan yang telah diberikan melalui program FOLU Net Sink agar dapat digunakan secara berkelanjutan untuk mendukung produksi kelompok tani di Kampung Puar.
Kepala Kampung Puar, Korinus Bahamba, menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kehutanan atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap program pengembangan masohi dapat terus berjalan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Kami berharap produksi kulit masohi di Kampung Puar dan seluruh Kabupaten Fakfak dapat berjalan dengan baik dan membawa kemajuan bagi daerah, khususnya Distrik Teluk Patipi,” ungkapnya.
Sementara itu, Susilo Budisodo, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Papua dari Laboratorium Hasil Hutan, menyampaikan bahwa peserta pelatihan menunjukkan antusiasme dan kemampuan yang baik, terutama dari sisi pengalaman di lapangan.
“Potensi masohi sangat besar. Jika diolah menjadi minyak atsiri, nilainya bisa mencapai sepuluh kali lipat dibandingkan hanya menjual kulitnya. Ini peluang besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa selain masohi, komoditas lain seperti pala juga memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan secara maksimal di Fakfak.
Senada dengan itu, Reni Purnawati dari Fakultas Kehutanan Universitas Papua menyatakan kebanggaannya dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini sangat penting dalam meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat sekitar hutan.
“Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya hutan secara optimal, tidak hanya untuk kebutuhan pribadi tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat secara luas,” katanya.
Perwakilan perempuan Kampung Puar, Lesina Tuturop, juga menyampaikan harapannya agar ilmu yang diperoleh dari kegiatan ini dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat.
“Semoga apa yang telah disampaikan, baik melalui materi maupun praktik hari ini, dapat menjadi bekal bagi masyarakat Kampung Puar untuk berkembang ke depan,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong hilirisasi hasil hutan di Papua Barat khusunya di Kabupaten Fakfak, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan.***
Infofakfak.com Informasi Seputar Kota Fakfak