<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kontribusi Warga &#8211; Infofakfak.com</title>
	<atom:link href="https://infofakfak.com/category/kontribusi-warga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://infofakfak.com</link>
	<description>Informasi Seputar Kota Fakfak</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Jul 2024 21:29:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.15</generator>
	<item>
		<title>JUDI ONLINE ADALAH MAUT</title>
		<link>https://infofakfak.com/2024/07/judi-online-adalah-maut/</link>
					<comments>https://infofakfak.com/2024/07/judi-online-adalah-maut/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jul 2024 21:25:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kontribusi Warga]]></category>
		<category><![CDATA[fakfakkontribusiwarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://infofakfak.com/?p=8742</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Amrin Landupa Tatkala kecanggihan tehnologi dioperasikan kapitalisme global, tiada mengenal halal dan haram, melalui kemaksiatan pun viral tak berkesudahan. Tiada mengenal rakyat jelata atau pejabat tingkat diatasnya, judi online menjerat dan bikin semua mata terperanjat, Oh, Si dia dan Si mereka yang diam &#8211; diam mainan online perjudian. &#60;span;&#62;Rakyat melarat, kelas menengah atas pun ...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com/2024/07/judi-online-adalah-maut/">JUDI ONLINE ADALAH MAUT</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com">Infofakfak.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_8743" aria-describedby="caption-attachment-8743" style="width: 618px" class="wp-caption alignnone"><a href="https://infofakfak.com/wp-content/uploads/2024/07/IMG-20240703-WA0013.jpg"><img decoding="async" class="size-large wp-image-8743" src="https://infofakfak.com/wp-content/uploads/2024/07/IMG-20240703-WA0013-1024x572.jpg" alt="" width="618" height="345" srcset="https://infofakfak.com/wp-content/uploads/2024/07/IMG-20240703-WA0013-1024x572.jpg 1024w, https://infofakfak.com/wp-content/uploads/2024/07/IMG-20240703-WA0013-300x168.jpg 300w, https://infofakfak.com/wp-content/uploads/2024/07/IMG-20240703-WA0013-768x429.jpg 768w, https://infofakfak.com/wp-content/uploads/2024/07/IMG-20240703-WA0013.jpg 1080w" sizes="(max-width: 618px) 100vw, 618px" /></a><figcaption id="caption-attachment-8743" class="wp-caption-text">Ilustrasi judi online</figcaption></figure>
<p>Oleh Amrin Landupa<br />
Tatkala kecanggihan tehnologi dioperasikan kapitalisme global, tiada mengenal halal dan haram, melalui kemaksiatan pun viral tak berkesudahan.</p>
<p>Tiada mengenal rakyat jelata atau pejabat tingkat diatasnya, judi online menjerat dan bikin semua mata terperanjat,</p>
<p>Oh, Si dia dan Si mereka yang diam &#8211; diam mainan online perjudian.<br />
&lt;span;&gt;Rakyat melarat, kelas menengah atas pun ikut &#8211; ikutan, modal sepuluh ribu pikiran dapat jutaan rupiah, ini adalah penyakit yg terus terbawa.</p>
<p>Judi online adalah maut, suami &#8211; istri ribut dan membakar tubuh melepuh, berakhir dengan meninggal dunia selamanya dengan kisah memilukan, berat nian kehidupan yang tercampur aduk personal ketika jauh dari agama.</p>
<p>Bersanding dengan miras yang memabukan dan merusak akal, dengan mengundi nasib yang memang manusia tak pernah tahu masa depannya.</p>
<p>Ambisi menang selalu ada, inilah yang di manipulasi oleh bandar judi, karena keasyikan sehingga muncul harapan dan semangat sampai lupa kalau taruhan itu adalah uang pinjaman, ini pun bisa berimbas ke hal negatif, yang menyebabkan frustasi hingga bunuh diri, karena tak dibekali dengan iman yang kuat di dada.</p>
<p>Judi online dan offline adalah maut, sering diliputi dengan permusuhan dan pikiran jahat, melupakan sang pemberi rezeki, melalaikan ikhtiar halal, untuk meraih kemuliaan.</p>
<p>Melalaikan manusia dari mengingat Allah SWT, mengabaikan kewajiban merawat keluarga, dari pendidikan anak, menyalahi kodrat manusia untuk berusaha keras mendapatkan manfaat, penuh dengan godaan membuat orang kecanduan, untuk melakukannya.</p>
<p>Memisahkan suami &#8211; istri dari rumah tangga yang sudah terajut, di hantui hutang judi yang mustahil di bayar, meyakinkan diri untuk berbuat kriminalitas di ambang batas.</p>
<p>Banyak sekali kasus kejahatan disebabkan oleh orang &#8211; orang yang kecanduan bermain judi online.</p>
<p>untuk itu, sebagai generasi yang cakap digital adalah bukan generasi yang masih bermain judi online.</p>
<p>Judi online adalah maut,<br />
Semoga judi online bisa diberantas, sama halnya juga dengan judi offline.<br />
Semoga yang sering main mata, membekingi pun bisa diberantas. *</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com/2024/07/judi-online-adalah-maut/">JUDI ONLINE ADALAH MAUT</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com">Infofakfak.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://infofakfak.com/2024/07/judi-online-adalah-maut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Profesionalisme Verifikator Harga Mati</title>
		<link>https://infofakfak.com/2023/03/profesionalisme-verifikator-harga-mati/</link>
					<comments>https://infofakfak.com/2023/03/profesionalisme-verifikator-harga-mati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Mar 2023 08:14:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kontribusi Warga]]></category>
		<category><![CDATA[fakfakkontribusiwarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://infofakfak.com/?p=7547</guid>

					<description><![CDATA[<p>Profesionalisme Verifikator Harga Mati (Refleksi Pengawasan Verifikasi Faktual Bacalon DPD Papua Barat) Penulis : Fauzan Jauhari Tukuwain INFOFAKFAK.COM_ Jika bertanya pada masyarakat umum tentang pelaksanaan Pemilu 2024, dapat dipastikan jawaban mereka adalah pada 14 Februari 2024, dan itu tidaklah salah. Namun jika pertanyaan serupa ditujukan kepada jajaran penyelenggara Pemilu, maka jawaban itu menjadi kurang tepat, ...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com/2023/03/profesionalisme-verifikator-harga-mati/">Profesionalisme Verifikator Harga Mati</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com">Infofakfak.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Profesionalisme Verifikator Harga Mati</p>
<p>(Refleksi Pengawasan Verifikasi Faktual Bacalon DPD Papua Barat)</p>
<p>Penulis : Fauzan Jauhari Tukuwain</p>
<p><strong>INFOFAKFAK.COM_</strong> Jika bertanya pada masyarakat umum tentang pelaksanaan Pemilu 2024, dapat dipastikan jawaban mereka adalah pada 14 Februari 2024, dan itu tidaklah salah. Namun jika pertanyaan serupa ditujukan kepada jajaran penyelenggara Pemilu, maka jawaban itu menjadi kurang tepat, mengingat bahwa tahapan-tahapan Pemilu 2024 sudah dimulai, dan berjalan.</p>
<p>Selain untuk memilih Presiden, Pemilu 2024 mendatang juga momentum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang mewakili setiap provinsi yang ada di Indonesia. Tidak terkecuali bagi mereka yang akan mencalonkan diri sebagai Bakal Calon DPD dari Provinsi Papua Barat.</p>
<p>Untuk itulah, profesionalisme verifikator atau petugas pemverifikasi menjadi harga mati dalam pelaksanaan tahapan verifikasi dukungan terhadap Bacalon DPD.</p>
<p><strong>Verifikator Bukan Tim Kampanye</strong><br />
Tugas utama dari verifikator adalah memverifikasi keabsahan dukungan masyarakat terhadap salah satu Bakal Calon DPD. Maka, yang dilakukan oleh verifikator adalah mencocokkan data warga pendukung dengan kartu identitas kependudukannya. Setelah itu barulah verifikator menanyakan kebenaran dukungan yang telah diberikan warga kepada salah satu Bakal Calon DPD.<br />
&lt;span;&gt;Hal itu dilakukan semata-sama untuk memastikan bahwa data pendukung yang tercatat di KPU adalah benar, dan warga yang bersangkutan benar-benar memberikan dukungannya terhadap salah satu Bakal Calon Anggota DPD. Tentu saja ini semua untuk menghindari adanya dukungan fiktif terhadap Bakal Calon DPD yang dengan kata lain, identitas warga telah dicatut oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk keperluan politik golongan tertentu.</p>
<p>Jika diliat dari tugas dan kewajiban dari verifikator, tentu saja mengenalkan profil Bakal Calon DPD bukanlah termasuk dalam tugas dan kewajiban para verifikator. Justru menjadi salah, jika dalam proses verifikasi, verifikator turut mengkampanyekan Bakal Calon DPD. Karena ketika ada verifikator yang mengenalkan profil Bakal Calon DPD kepada warga, sudah pasti hal itu akan membingungkan warga, bahkan turut menggiring pemikiran warga dalam menentukan dukungannya.</p>
<p><strong>Verifikator Wajib Memberikan Status Yang Jelas</strong><br />
Setelah mencocokkan data pendukung dengan kartu identitas asli milik warga dan menanyakan perihal dukungan warga terhadap salah satu Bakal Calon DPD dengan merujuk pada data yang ada di KPU, selanjutnya verifikator wajib mencatatnya ke dalam formulir verifikasi yang sudah disiapkan oleh KPU.</p>
<p>Dalam hal pengisian formulir verifikasi inilah, verifikator wajib memberikan status yang jelas perihal dukungan warga terhadap salah satu Bakal Calon DPD yang ada. Kejelasan status dukungan yang dimaksud hanya ada dua, yakni Memenuhi Syarat (MS) ketika mendapati warga yang telah menyatakan dukungannya dan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) ketika mendapati warga yang menyangkal dukungannya terhadap salah satu Bakal Calon DPD.</p>
<p>Dengan begitu, maka tidak ada status dukungan yang abu-abu atau tercatat sebagai Belum Memenuhi Syarat (BMS). Karena pada tahapan verifikasi dukungan terhadap Bakal Calon DPD hanya ada dua syarat, yakni kecocokan data pendukung dengan KTP nya, dan pernyataan dari warga akan dukungannya, yakni mendukung atau tidak mendukung. Sehingga, kejelasan status ini harus diberikan oleh verifikator di depan warga yang diverifikasi dan pengawas yang ada saat itu.</p>
<p><strong>Laporkan ke Bawaslu, Jika Warga Dicatut Namanya</strong><br />
Dalam pelaksanaan verifikasi faktual terhadap dukungan kepada Bakal Calon DPD, sudah pasti ditemukan warga yang tidak mendukung salah satu Bakal Calon DPD, namun identitasnya dicatut dalam dukungan. Tentu saja hal ini akan mencederai demokrasi jika tidak ditindaklanjuti.</p>
<p>Untuk itulah, Bawaslu dan jajarannya dihadirkan untuk mengawal hal-hal semacam ini. Maka, jika ada warga yang merasa tidak mendukung salah satu Bakal Calon DPD, namun namanya dicatut oleh oknum dengan segera dapat melaporkannya ke Bawaslu atau jajaran pengawas yang terdekat dari tempatnya.</p>
<p>Terkadang banyak warga yang enggan melaporkan kecurangan-kecurangan seperti itu kepada Bawaslu dan jajarannya. Banyak hal yang mungkin menjadi pertanyaan di masyarakat, apakah laporan itu berbayar? Apakah identitas mereka aman pasca melakukan laporan? Dsb.</p>
<p>Inilah yang masyarakat perlu ketahui, bahwa semua laporan kepada Bawaslu, tidak dipungut biaya sama sekali. Identitas warga yang melapor juga akan dijaga kerahasiaannya oleh Bawaslu dan jajaran, dengan tidak diumbar sembarangan. Karena yang akan dilakukan oleh Bawaslu adalah menghimpun nama-nama warga yang dicatut namanya, kemudian membuat rekomendasi kepada KPU agar menghapus nama-nama itu dari daftar dukungan terhadap Bakal Calon DPD. Sehingga, keadilan dapat dirasakan oleh KPU, Bawaslu, warga, dan peserta Pemilu. Sesuai dengan tagline Bawaslu “Bersama Rakyat Awasi Pemilu, Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu”</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com/2023/03/profesionalisme-verifikator-harga-mati/">Profesionalisme Verifikator Harga Mati</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com">Infofakfak.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://infofakfak.com/2023/03/profesionalisme-verifikator-harga-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berjalan Tanpa Peta</title>
		<link>https://infofakfak.com/2023/03/berjalan-tanpa-peta/</link>
					<comments>https://infofakfak.com/2023/03/berjalan-tanpa-peta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Mar 2023 04:35:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kontribusi Warga]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[fakfakopini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://infofakfak.com/?p=7537</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berjalan Tanpa Peta (Refleksi Pengawasan Tahapan Coklit) Oleh: Fauzan Jauhari Tukuwain Bisa dibayangkan bagaimana rasanya berjalan bersama teman, untuk sebuah perjalanan yang jauh tanpa ada peta sebagai navigasi? Tentu saja rasa khawatir akan tersesat akan muncul dengan sendirinya. Pun dengan kekhawatiran akan antisipasi dalam mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan. Kurang lebih itu juga ...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com/2023/03/berjalan-tanpa-peta/">Berjalan Tanpa Peta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com">Infofakfak.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Berjalan Tanpa Peta<br />
(Refleksi Pengawasan Tahapan Coklit)</p>
<p>Oleh: Fauzan Jauhari Tukuwain</p>
<p>Bisa dibayangkan bagaimana rasanya berjalan bersama teman, untuk sebuah perjalanan yang jauh tanpa ada peta sebagai navigasi? Tentu saja rasa khawatir akan tersesat akan muncul dengan sendirinya. Pun dengan kekhawatiran akan antisipasi dalam mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan.</p>
<p>Kurang lebih itu juga yang dirasakan oleh Bawaslu ketika mengawasi tahapan Coklit (Pencocokan dan Penelitian) data pemilih, yang telah berakhir 14 Maret 2023 lalu. Pengawasan yang cukup sulit ketika transparansi data pemilih belum dilakukan oleh KPU dan jajarannya.</p>
<p>Pemilu 2024 adalah sebuah perjalanan panjang dengan KPU, Bawaslu dan DKPP sebagai lembaga penyelenggaranya. Data pemilih adalah peta dalam perjalanan panjang ini. Namun pada tahapan Coklit, peta atau data pemilih hanya dimiliki oleh KPU dan jajaran di bawahnya (PPK, PPS, dan Pantarlih). Lantas, bagaimana Bawaslu dan jajaran di bawahnya akan melaksanakan fungsi pengawasannya dengan optimal, ketika data yang menjadi objek pengawasan pun tidak dimiliki?</p>
<p><strong>Data Pemilih adalah data rahasia?</strong><br />
Konon, data pemilih merupakan data rahasia yang diberikan oleh Kementerian Dalam Negeri kepada KPU melalui Dukcapil. Dan karena sifatnya yang rahasia inilah, maka Bawaslu dan jajaran pengawas di bawahnya tidak mendapatkan akses terhadap data ini. Sejujurnya, aku menyangsikan hal ini. Bagaimana tidak, jika data pemilih adalah sebuah rahasia, yang pada akhirnya akan diturunkan oleh KPU kepada seluruh jajarannya di bawahnya, bahkan hingga tingkat PPD di Distrik, PPS di Kampung, dan Pantarlih di tingkat TPS. Akankah masih menjadi rahasia ketika data itu dapat diakses dengan mudah oleh mereka yang direkrut sebagai penyelenggara ad hoc?</p>
<p>Sedangkan Bawaslu yang notabennya sebagai mitra sesama penyelenggara Pemilu yang setara dengan KPU, justru mendapatkan pengecualian dalam mengakses data pemilih.5 Padahal Bawaslu dan KPU memiliki kepedulian yang sama besarnya dengan KPU untuk menjaga hak pilih demi suksesnya Pemilu 2024. Untuk itu, alangkah lebih baik jika sinergi antara KPU dan Bawaslu lebih dikedepankan, mulai dari transparansi data pemilih, misalnya. Sehingga Bawaslu dan jajarannya memiliki data pembanding yang berguna untuk disandingkan dengan data yang didapatkan oleh Bawaslu dari hasil pengawasan di lapangan. Sehingga jika ditemukan ketidaksinkronan data, dapat segera dilakukan perbaikan dan sinkronisasi oleh lembaga yang berwenang.</p>
<p><strong>Dinamika Coklit dan Kasus di Lapangan</strong><br />
Tanggal 14 Maret 2023 merupakan batas maksimal dilakukannya Coklit oleh Pantarlih. H-1 atau pada tanggal 13 Maret 2023, Bawaslu Fakfak menemukan masih ada sekitar 100 rumah yang belum didatangi oleh petugas Pantarlih di Kampung Torea, Distrik Pariwari. Hal ini seharusnya dapat diantisipasi lebih dini, jika Bawaslu dan jajarannya memiliki akses terhadap data pemilih.</p>
<p>Kendati demikian, Bawaslu Fakfak dan jajarannya, masih berupaya melakukan pengawasan secara maksimal melalui uji fakta atau uji petik terhadap data pemilih yang sudah dicoklit oleh Pantarlih. Dari hasil uji fakta inilah beberapa daerah yang belum selesai dicoklit oleh Pantarlih diketahui oleh Bawaslu dan jajarannya. Setelah itu, Bawaslu dan jajarannya dapat melayangkan saran perbaikan baik lisan maupun tertulis untuk nantinya ditindak lanjuti oleh KPU dan jajarannya di bawahnya.</p>
<p><strong>Kinerja Bawaslu Tanpa Data Pemilih</strong><br />
Tanpa adanya data pemilih di tangan Bawaslu, tidak lantas membuat Bawaslu kehilangan taringnya. Perlu diketahui bersama, bahwa Bawaslu memiliki fungsi CAT (Cegah – Awasi – Tindak) atau pencegahan, pengawasan, dan penindakan. Selama ini, fungsi pencegahan telah banyak dilakukan oleh Bawaslu dan jajarannya, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko pelanggaran-pelanggaran yang mungkin terjadi di setiap tahapan Pemilu.</p>
<p>Pada tahapan Coklit yang baru saja usai, berbagai langkah pencegahan sudah dilakukan oleh Bawaslu dan jajarannya. Seperti publikasi kerawanan pelanggaran yang terjadi di tahapan itu, uji fakta atau uji petik yang dilakukan oleh Panwaslu Kelurahan/Desa, dicanangkannya program patroli kawal hak pilih, hingga himbauan dan saran perbaikan baik lisan maupun tertulis.</p>
<p>Selain itu, fungsi pengawasan juga dilakukan oleh Bawaslu. Meskipun dalam tahapan Coklit, Bawaslu dan jajarannya tidak memiliki data pemilih sebagai salah satu objek pengawasan, namun Bawaslu dan jajarannnya masih dapat melakukan pengawasan terhadap prosedur Coklit yang dilakukan oleh Pantarlih. Bahkan dari fungsi pengawasan inilah, nantinya akan ada temuan, yakni tidak adanya data pemilih sebagai acuan pengawasan. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Cak Masykuruddin Hafidz, mantan Tenaga Ahli Bawaslu RI, bahwa temuan tidak hanya apa yang berwujud, bahkan jika itu berupa data yang tidak ditemukan sekalipun, tetap disebut sebagai temuan. ***</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com/2023/03/berjalan-tanpa-peta/">Berjalan Tanpa Peta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com">Infofakfak.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://infofakfak.com/2023/03/berjalan-tanpa-peta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman dr. Beny Bernard Kwa Jalani Isolasi Mandiri</title>
		<link>https://infofakfak.com/2021/07/pengalaman-dr-beny-bernard-kwa-jalani-isolasi-mandiri/</link>
					<comments>https://infofakfak.com/2021/07/pengalaman-dr-beny-bernard-kwa-jalani-isolasi-mandiri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2021 21:12:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kontribusi Warga]]></category>
		<category><![CDATA[fakfakkesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://infofakfak.com/?p=5752</guid>

					<description><![CDATA[<p>Isolasi Mandiri (Isoman) pasti isooooo, Man! Kejadiannya dimulai pada 16 Juni 2021, ketika salah seorang tenaga kesehatan Puskesmas melaporkan hasil swab antigen Covid-19 positif, kemudian dilakukan skrining kontak erat pada rekan kerjanya, ditemukan 1 tenaga kesehatan (nakes) dan anaknya juga positif. Sayapun ikut di swab dengan hasil negatif. Seluruh rekan kerjanya seruangan diminta untuk melakukan ...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com/2021/07/pengalaman-dr-beny-bernard-kwa-jalani-isolasi-mandiri/">Pengalaman dr. Beny Bernard Kwa Jalani Isolasi Mandiri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com">Infofakfak.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5753" aria-describedby="caption-attachment-5753" style="width: 614px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" loading="lazy" class="size-large wp-image-5753" src="https://infofakfak.com/wp-content/uploads/2021/07/IMG-20210708-WA0051-614x1024.jpg" alt="" width="614" height="1024" /><figcaption id="caption-attachment-5753" class="wp-caption-text">Isolasi mandiri (Isoman) Pasti isooo, Man!</figcaption></figure>
<p style="text-align: left;">Isolasi Mandiri (Isoman) pasti isooooo, Man!</p>
<p style="text-align: left;">Kejadiannya dimulai pada 16 Juni 2021, ketika salah seorang tenaga kesehatan Puskesmas melaporkan hasil swab antigen Covid-19 positif, kemudian dilakukan skrining kontak erat pada rekan kerjanya, ditemukan 1 tenaga kesehatan (nakes) dan anaknya juga positif. Sayapun ikut di swab dengan hasil negatif. Seluruh rekan kerjanya seruangan diminta untuk melakukan karantina mandiri selama 5 hari di rumah masing-masing  dan akan di swab lagi.</p>
<p>Ketika karantina mandiri berlangsung hari ketiga, salah seorang melaporkan mengalami demam dan pilek, dilakukan swab antigen dengan hasil positif.</p>
<p style="text-align: left;">Tanggal 18 Juni, saya mengalami batuk yang seperti biasanya, saya anggap asma kambuh (saya memang mengidap asma bronchiale), diobati dengan obat asma Inhaler.</p>
<p>20 Juni 2021, saya merasakan tenggorokan kering. Karena khawatir akan terjadi infeksi tenggorokan seperti yang sering terjadi, maka saya menelan ciprofloksasin 2 x 500 mg.</p>
<p>21 Juni sore, saya mulai bersin dan hingga malam hidung mulai tersumbat. Istri mengusulkan untuk dilakukan swab antigen, dan dengan santai saya mengiyakan karena yakin hasilnya akan negatif. Ternyata test yang dilakukan pukul 23.30 malam itu, memberi hasil positif. Kami berdua kaget, dan tidak bisa menginformasikan kepada anggota keluarga lain karena semuanya sudah tidur.</p>
<p>Keesokan paginya, kami menyampaikan hasil ke anggota keluarga dan terjadi kepanikan. Saya tinggal bersama dengan ibu yang berusia 80 tahun, sudah  divaksinasi Sinovac 2 kali. Ibu masih menggunakan masker medis di rumah tapi juga terkadang dilepas, kami kerap makan bersama. Tentunya timbul rasa khawatir.</p>
<p>Terjadilah pergeseran tempat tinggal. Ibu bergeser ke lantai bawah bersama anggota keluarga lain, istri bergeser di kamar lain dan babak ketersendirian di mulai.</p>
<p>Seluruh kontak erat di rumah melakukan pemeriksaan swab di puskesmas, hasilnya negatif , dan diulang 5 hari kemudian dengah hasil negatif juga.</p>
<p>Kamar tidur sendiri, kamar mandi sendiri, makan sendiri dan sebisa mungkin tidak keluar kamar. Untungnya masih bisa ditemani gadget sehingga bisa mengisi kesepian. Chatting WAG teman SMA yang selama ini tidak sempat saya baca, kini bisa dibaca satu persatu dan bisa merespon percakapan. Mulai ada telpon yang memberi support  dari teman dan sejawat, sangat terbantu dalam menenangkan hati mengingat angka kematian Covid-19 di Fakfak cukup tinggi.</p>
<p>Masih banyak kecanggungan ketika melakukan isolasi mandiri di rumah, kadang masih lupa dan keluar kamar tanpa masker. Lupa meyemprot benda yang pernah saya sentuh. Telepon dari keluarga, teman yang mensupport, menawarkan obat alternatif dan cerita yang membesarkan hati, tentu sangat membantu menenangkan hati. Juga ada yang telepon dan menanyakan kebenaran berita dan saya dengan terus terang menyampaikan bahwa saya terkena Covid-19.</p>
<p>Obat-obatan diperoleh dari puskesmas dengan lengkap, ada teman yang mengirimkan telur ayam kampung, buah kelapa muda segar dari Karas, juga respon teman-teman analis kesehatan, dokter di rumah sakit yang sangat membantu dan memberi dukungan, membuat rasa khawatir berkurang.</p>
<p>Perasaan dihndari dan dijauhi karena mengidap penyakit yang mudah ditularkan ke orang lain ini yang kadang mengganggu perasaan. Namun saya berpikir bahwa, jika saya menjadi mereka, saya pun akan melakukan hal yang sama. Jadi wajar saja. Nikmati saja kesendirian bersama gadget, menulis, dan menjawab panggilan yang masuk.</p>
<p>Pada 24 Juni saya melakukan test PCR di rumah sakit, dan besok paginya saya mendapatkan hasil bahwa hasil test PCR positif Covid-19 dengan CT 22, kemudian dilakukan foto thorax, dengan hasil kesan normal.</p>
<p>Berkurang rasa cemas, walaupun masih batuk dan sesak ringan dengan saturasi 96-97%. Makan di tempat tersendiri, alat makan sendiri, pakaian harus diberikan detergen sendiri sebelum dikirim ke mesin cuci. Malam-malam diisi dengan bernyanyi lewat aplikasi, sebuah hobby yang memang sering saya lakukan setiap malam menjelang tidur.</p>
<p>Tanggal 25 Juni, bangun dengan perasaan lebih baik, mengukur saturasi 96%. Setelah selesai sarapan dan minum obat, kemudian menghubungi teman kerja yang juga mengalami hal yang sama, menanyakan keadaan  mereka dan memberi semangat juga.</p>
<p>Hari ini, 2 rekan kerja melaporkan bahwa swab antigennya sudah negatif, namun mendapat kabar ada rekan kerja yang hari ini juga harus isolasi mandiri dengan gejala ringan.</p>
<p>Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Membaca berita di social media tentang berbagai pengobatan, kematian yang terjadi karena Covid-19 dan testimoni tentang Ivermectin cukup membuat hati ini gundah, apakah saya perlu juga menggunakan obat tesebut.</p>
<p>Namun dengan keyakinan bahwa hanya 5-10% akan bergejala sedang dan 1-2 % yang bergejala berat dan saya sudah mendapatkan vaksinasi Covid Sinovac 2 kali sebagai tenaga kesehatan serta mendapatkan obat sesuai protokol covid nasional, akhirnya saya memutuskan cukup dengan obat dari puskesmas saja, sambil berusaha berpikir positif.</p>
<p>Hari-hari saya lalui juga dengan menelpon teman yang mengalami hal yang sama, saling menguatkan dan memberi motivasi.</p>
<p style="text-align: left;">Akhirnya, pada 02 Juli saya melakukan swab antigen di puskesmas Fakfak, hasilnya negatif. Ini tentu sangat menggembirakan, sebab itu artinya saya boleh beraktivitas kemball.</p>
<p>Namun setelah itu muncul perasaan, apakah yang lain sudah mau menerima saya kembali, sudah tidak menjadi penular lagi? Dan saya yakin, dengan berjalannya waktu, hal tersebut akan sirna.</p>
<p>Satu hal yang baik di kota ini, perhatian dari puskesmas dan rekan yang memantau sangat baik, pengobatan bisa diperoleh tanpa proses yang berbelit-belit, obatnya pun sesuai dengan standar pengobatan, padahal saya mendapat info bahwa untuk penderita di kota lain tidak bisa mendapat obat sesuai sandar dengan berbagai alasan.</p>
<p>Hikmah yang bisa dibagi dari peristiwa ini ;<br />
1. Jangan ragu untuk melakukan swab test Covid-19 untuk mengetahui keadaan kita.<br />
2. Jangan ragu untuk menyampaikan kepada puskesmas dan pihak lain jika terkena Covid-19 supaya bisa ditindaklanjuti sesuai protokol.<br />
3. Isolasi mandiri cukup sulit dilakukan jika kita masih serumah dengan orang lain, karena banyak “excuse” yang bisa membahayakan orang lain, sebaiknya dilakukan observasi kelayakan rumah yang akan digunakan untuk isolasi mandiri, dan dipersiapkan tempat isolasi yang layak huni yang bisa digunakan jika rumah tidak layak untuk isolasi mandiri.<br />
4. Puskesmas sangat berperan dalam penanggulangan Covid-19 dan dperlukan keluwesan, pendekatan yang baik dengan penderita.<br />
5. Persiapan logistik obat dan bahan pemeriksaan sangat penting dalam mengatasi masalah ini.<br />
6. Lakukan vaksinasi Covid-19 sesegera mungkin. ***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com/2021/07/pengalaman-dr-beny-bernard-kwa-jalani-isolasi-mandiri/">Pengalaman dr. Beny Bernard Kwa Jalani Isolasi Mandiri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://infofakfak.com">Infofakfak.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://infofakfak.com/2021/07/pengalaman-dr-beny-bernard-kwa-jalani-isolasi-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
