Home / Headline / Chrisye Talla, “Sekali saya terima uang, tatanan Pasar Thumburuni akan rusak.”

Chrisye Talla, “Sekali saya terima uang, tatanan Pasar Thumburuni akan rusak.”

Chrisye Talla, Kepala Bidang Pasar Disperindag Kabupaten Fakfak, ungkap cerita dibalik relokasi pasar
Chrisye Talla, Kepala Bidang Pasar Disperindag Kabupaten Fakfak, ungkap cerita dibalik relokasi pasar

INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Menyimak cerita dibalik penataan Pasar Thumburuni Fakfak, Papua Barat, pasca terbakar pada 21 Agustus 2019 lalu, akan membuat kita tercengang. Bukan takjub, namun lebih mendekati terkejut. Betapa tidak? Untuk mendapatkan jatah los atau ruang dagang di pasar yang masih baru akan dibangun pada 2020 nanti, uang jutaan berseliweran, mencoba merubah tatanan, membungkus paksaan dengan selimut rayuan, demi –katanya- meraih rejeki halal hasil berjualan.

Tak sengaja, kemarin sore (21/10) bertemu dengan Chrisye Talla, Plt. Kepala Bidang Pasar pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Fakfak, di Pujasera, Jl. Dr. Salasa Namudat, Fakfak. Dari obrolan ringan, hingga akhirnya menyinggung Pasar Thumburuni, yang memang menjadi “medan” pekerjaannya.

“Banyak suka dukanya,” ujar Chris pendek pada mulanya.

Obrolanpun mengalir,hingga sampailah pada cerita adanya upaya-upaya banyak pihak, agar dirinya memberikan ruang kepada orang-orang tertentu, untuk mendapatkan jatah los atau ruang dagang di Pasar Thumburuni baru, yang akan dibangun tahun depan.

“Setelah pembongkaran Pasar Thumburuni karena sudah tidak bisa dipakai lagi dan pedagang akan direlokasi, hampir setiap malam ada orang yang bertamu ke rumah. Mereka meminta agar nama mereka dipastikan termasuk dalam daftar orang yang akan mendapatkan ruang dagang di tempat relokasi. Sebab, jika sudah aman di tempat relokasi, maka nama mereka akan terakomodir di pasar baru nanti,” ujar Chris.

Nampaknya para pedagang tak kurang akal. Mereka menggunakan orang-orang yang dianggap berpengaruh untuk mempengaruhi Kepala Bidang Pasar tersebut. Dari yang datang sendiri dan mencoba memberikan amplop yang tentu saja berisi uang hingga jutaan rupiah, sampai datang didampingi mantan anggota dewan, oknum milter hingga tokoh masyarakat.

“Ada yang datang didampingi mantan anggota dewan. Intinya sama, agar saya mau memasukkan mereka sebagai pedagang di pasar baru nanti,” kata Chris.

Awalnya Chris ragu, namun akhirnya dia katakan, ada oknum militer yang menghubungi dirinya untuk bertemu. Ketika pertemuan terjadi, entah disengaja atau tidak, di tempat itu ada pula pedagang yang sudah dikenal masyarakat Fakfak. Dan lagi-lagi, tujuannya sama, meminta jatah ruang dagang untuk “rekanannya”.

“Saya kalau mau terima uang itu, saya yakin bisa ratusan juta yang bisa saya dapatkan. Yang saya tahu, sebab dikatakan oleh orang yang akan memberi saya, uang dalam amplop itu ada yang lima juta. Dan bukan hanya satu atau dua orang yang akan memberi. Banyak. Tapi semua saya tolak. Sebab, sekali saya terima uang, tatanan Pasar Thumburuni akan rusak,” tegas Chris.

Chri menyambung, bila dirinya mau menerima uang sogokan itu sekali saja, meski hanya bernilai kecil, maka upaya pemerintah menata pasar akan rusak. Dirinya sebagai petugas di lapangan, tidak akan ada harganya. Pedagang tidak akan menurut pada aturan dan kebijakan yang diambilnya, sebab mereka tahu, dirinya bisa dibeli.

“Saya kemarin sampaikan kepada para pedagang di Pasar Dulan Pokpok, bila ada anak buah saya yang menerima uang dari pedagang secara ilegal, tolong laporkan. Saya akan beri sanksi. Ada enam staf di kantor saya yang mengurus pasar. Dan sudah saya tegaskan kepada mereka, jangan coba-coba menerima imbalan yang mempengaruhi aturan di pasar,” tegas Chris.

Chris menambahkan, pasca kebakaran pasar, cukup banyak orang yang datang dengan membawa nomor undian. Nomor undian yang berstempel ini, merupakan nomor undian kali pertama pembagian los atau ruang dagang saat Pasar Thumburuni baru dibuka beberapa tahun lalu.

“Ada yang datang dengan membawa nomor undian. Mungkin dia mendapatkan ruang dagang saat dibagikan kali pertama dulu. Namun, ruang dagang itu sudah dijual atau dipindah-tangankan berkali-kali. Tapi dia datang lagi,” ujar Chris. “Bikin pusing,” imbuhnya.

Bagi Chris, pihaknya tentu tidak ingin merugikan orang. Ada pedagang yang kenyataannya memang memiliki beberapa ruang dagang, tentu tidak bisa dipinggirkan begitu saja. Sering, pedagang tersebut membeli dari pedagang lainnya, diantaranya, dengan oper kredit macet di bank. Terhadap pedagang ini, diminta untuk melepaskan nama kepemilikannya kepada saudaranya. Toh, tidak menambah ruang dagang yang sudah ada.

“Kebijakan pemerintah, satu keluarga tidak boleh memiliki beberapa ruang dagang. Misal, ayah, ibu dan anak, masing-masing memiliki ruang dagang. Ini yang akan disatukan. Kita verifikasi dengan melihat kartu keluarganya,” terang Chris.

Kini, pemerintah sedang berupaya untuk mendapatkan lokasi tambahan untuk merelokasi pedagang yang masih berada di area Pasar Thumburuni. Salah satunya di depan Bank Papua, di Jl Dr. Salasa Namudat. Relokasi ini harus dilakukan, karena Pasar Thumburuni segera dibersihkan untuk dibangun pasar yang baru.

Kabarnya, pemerintah daerah kesulitan “meminjam” area reklamasi sebagai lokasi pasar sementara, sebab pihak pemilik reklamasi tidak mengijinkan tanahnya dipergunakan sebagai pasar sementara, lantaran pemilik tanah merasa pemerintah daerah kurang tanggap terhadap hak-haknya. (*)

Reporter : Ayu

Editor : Wahyu Hidayat

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Foto bersama seusai penyerahan bantuan CSR  BRI sebesar125 juta kepada wakil masyarakat Kampung Pirma

BRI Peduli Kucurkan Dana CSR Bina Lingkungan Sebesar 125 Juta Di Kampung Pirma

INFOFAKFAK.COM, FAKFAK TENGAH_ BRI Cabang Fakfak, Sabtu, 16 November 2019, mengucurkan dana CSR Bina LIngkungan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>