Home / Headline / Tangkapan Kerapu Di Kaimana Berlimpah, Tetap Perlu Pengawasan

Tangkapan Kerapu Di Kaimana Berlimpah, Tetap Perlu Pengawasan

Tangkapan ikan kerapu yang melimpah, di Kaimana
Tangkapan ikan kerapu yang melimpah, di Kaimana

INFOFAKFAK.COM, KAIMANA_ Musim angin barat yang terjadi di perairan Kaimana  Papua Barat, yang umumnya berlangsung pada periode bulan Oktober-Maret, juga merupakan penyebab musim penghujan dan memengaruhi tinggi gelombang di utara Papua. Perkiraan potensi gelombang tinggi, mencapai 1,25 hingga 4 meter.

Ada yang berbeda pada musim barat kali ini, karena para nelayan justru mendapatkan hasil tangkapan melimpah, terutama jenis ikan kerapu besar (giant groupers).   Dalam Musim tangkap kali ini, nelayan Kaimana bisa menangkap kerapu kertang dengan rata-rata tangkapan 10 ekor sekali melaut. Nelayan melaut tergantung ketersediaan umpan saja. Bila ada cakalang dan bibit tuna, maka nelayan akan menangkap Kerapu.

Menurut keterangan Heros, seorang nelayan yang dibenarkan pula oleh beberapa rekannya sesama nelayan, bahwa  tahun lalu tangkapan gerapu hanya terjadi 2 – 3 minggu saja, setelah itu sudah tidak mau makan. Akan tetapi, tahun ini sudah lebih dari 3 bulan gerapu masih mau makan umpan.

Tangkapan terberat yang pernah diperoleh nelayan berbobot 280 Kg lebih, dan  terkecil 50 Kg. Saat ini, ada 8 perahu dan 16 nelayan dalam kelompoknya yang mencari di perairan Kaimana. Dengan perahu kayu berukuran rata-rata panjang 5 depa dan lebar 1.45 meter, alat apung gabus, senar (handline),  dan umpan cakalang atau bibit tuna, para nelayan ini setiap harinya berangkat di sepertiga  malam dan menempuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai di lokasi pemancingan.

Setelah melakukan persiapan dan membaca arus bergerak, kemudian para nelayan ini melepaskan pancing berpelampung yang sudah dipasangi umpan secara berurutan.  Setelah itu nelayan akan mengikuti pancing apung bergerak mengikuti arus dan akan terlihat bila pancing apung bergerak dapat dipastikan ikan memakan umpan.

Telah banyak diketahui bahwa keberadaan ikan kerapu dewasa dalam suatu ekosistem laut, sangat penting sebagai pengontrol keseimbangan populasi ikan, baik karnivora maupun herbivora yang berukuran sedang dan kecil di suatu perairan. Maka dengan berkurang/hilangnya fungsi kontrol tersebut, maka untuk jangka panjang di kawasan MPA akan terjadi ketidakseimbangan populasi ikan yang berdampak pada masalah keberlanjutan pengelolaan perikanan (sustainable of fisheries management) di Kaimana.

Eli Auwe, A.Pi., Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Kaimana menyatakankan,  sudah mengetahui tentang tangkapan kerapu itu lewat monitoring hasil pendaratan ikan di titik-titik pendaratan. TPI Anda Air, Kampung Seram, Kaki air, Air Tiba, Kampung Baru, Coa dan Tanggaromi, sebagai titik masuk untuk memonitor hasil tangkapan ikan yang didaratkan.

Yang jelas, hasil tangkapan dan potensi perikanan berkelanjutan ini cukup aman karena perilaku tangkapnya tidak mengkhawatirkan.  Pertama, penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan dan selektif. Menurut Eli Auwe, nelayan memakai handline, ada juga gilnet pasif dengan mess size yang besar 7-9 inci.

“Ukuran 9 inci yang dipakai itu memang jarang dipasaran, tapi nelayan mendesain sendiri.” Ujar Eli.

Eli menambahkan, sebagain besar nelayan memakai gilnet dengan ukuran jaring besar, yang  sangat disarankan. Selain handline/pancing, ada mini longline (mini rawai), yang  umumnya beroperasi di perairan Adijaya Buruway tapi bagian luar, kemudian bagian Namatota, Kayumera juga di luar. Semua itu ramah lingkungan.

Menanggapi kemungkinan membahayakan perikanan berkelanjutan, menurut Eli, “Penangkapannya selektif dan tidak massal dan hal ini menunjukan sisi positif dari larangan penggunaan trawl, karena  dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat sendiri”.

Eli menambahkan, karena kapal trawl ini beroperasi sampai ke  dasar perairan, maka seluruh hasil perikanan ditangkap oleh trawl dan hanya tersisa sedikit untuk masyarakat dengan kapal bertonase kecil.

“Jadi, tangkapan kali ini tidak membahayakan perikanan, karena penggunaan alat tangkap oleh nelayan ini  tidak merusak habitat,” katanya.

Ia juga menengarai adanya pemakaian alat tangkap tidak ramah lingkungan, tetapi belum ada laporan resmi yang masuk ke mejanya.

Policy Manager Blue Carbon dan Fisheries dari Conservation International Indonesia (CI Indonesia) Audrie Sihainenia berpendapat, fenomena penangkapan ikan kerapu besar yang terjadi pada perairan Kaimana saat ini, dapat dilihat dari dua sisi, yaitu Pertama, hasil tangkapan ikan kerapu (giant grouper) oleh nelayan yang berukuran besar, secara tidak langsung menunjukan bahwa ekosistem perairan di kawasan Kawasan Perlindungan Laut (Marine Protected Area atau MPA)  Kaimana secara alami masih berada dalam kondisi baik. Luas MPA Kaimana adalah 500 ribu ha yang ditetapkan oleh Bupati Kaimana pada tahun 2012, dan didukung oleh Dinas Perikanan Provinsi Papua Barat dengan dikeluarkannya SK Gub Nomor 523/135/7/2018 pada bulan Oktober 2018.  Kedua, dilihat dari ukuran ikan kerapu , tangkapan nelayan yang sangat besar ini, maka dapat dikategorikan sebagai ikan kerapu dewasa dengan tingkat produktivitas yang sangat tinggi. Apabila penangkapan ikan kerapu dewasa tersebut dilakukan oleh nelayan dalam kawasan MPA dalam jumlah besar dan tidak terkontrol dan diawasi, maka populasi ikan kerapu dewasa tersebut akan berkurang atau bahkan hilang dan dapat mengakibatkan ketidakstabilan ekosistem ikan di kawasan MPA.

Conservation International (CI) Indonesia adalah LSM Internasional yang berkantor pusat di Arlington, Amerika Serikat dan telah bekerja di Papua Barat selama lebih dari 10 tahun untuk mengajak masyarakat lokal untuk hidup harmonis dengan alamnya. Salah satu bukti nyata kerja CI Indonesia di Papua Barat, adalah membantu Pemerintah Daerah Raja Ampat, untuk membangun Kabupaten Raja Ampat secara berkelanjutan, melalui sektor pariwisata dan perikanan. Informasi lebih banyak mengenai CI Indonesia bisa diperoleh pada www.conservation.org. (ping/wah)

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Kasatpol PP Kabupaten Fakfak, Arif H Rumagesan

Jelang Pemilu, Satpol PP Akan Menutup Sementara Tempat Penjualan Miras

INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Kepala Satuan Polisi Pamong Praja atau Sapol PP Kabupaten Fakfak, Arif H Rumagesan, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>