Home / Headline / Sensasi Disenggol Hiu Paus Di Tanjung Bicari Kaimana

Sensasi Disenggol Hiu Paus Di Tanjung Bicari Kaimana

Berinteraksi dengan hiu paus, di Tanjung Bicari, Kaimana (dok IF)
Berinteraksi dengan hiu paus, di Tanjung Bicari, Kaimana (dok IF)

INFOFAKFAK.COM, KAIMANA_ Bagi sebagian besar orang, mendengar kata hiu saja, sudah membuat ngeri. Otak kanan akan merespon bahwa, hiu adalah hewan laut yang sering menyerang manusia saat di laut. Lalu, bagaimana rasanya berinteraksi secara dekat bahkan disenggol oleh ikan yang bisa berbobot hingga 21 ton ini?

Pengalaman inilah yang Sabtu (24/11) kemarin, dirasakan awak media ini. Dua dari tiga ekor hiu paus (rhincodon typus) yang berenang beriringan di bawah boat, menyenggol kaki. Kaget, tentu saja. Senang, iya. Untungnya, itu senggolan halus, mungkin sebagai ucapan selamat datang di Tanjung Bicari, di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Meski begitu, senggolan satwa dengan berat beberapa ton, tentu membuat kita terundur, mungkin bisa juga sakit di badan.

Berinteraksi dengan hiu paus pemakan utama plangton ini, membuat penat karena perjalanan dari Pelabuhan Kaimana ke Tanjung Bicari selama lebih kurang 45 menit, menjadi terlupakan. Keelokan satwa laut yang bisa mencapai panjang 9 meter ini, sungguh mengagumkan. Saking senangnya, aturan yang menyebutkan bahwa, jarak terdekat antara kita dengan hiu adalah 3 hingga 4 meter, menjadi terabaikan. Lagipula, hiu sendiri yang mendekati kita.

Satwa dilindungi ini, dinamakan hiu paus karena karena ukuran tubuhnya yang besar dan kebiasaan makannya dengan menyaring air laut, menyerupai kebanyakan jenis paus.

Jika beruntung, wisatawan bisa menyaksikan bahkan berenang dekat dengan ikan yang bisa berusia hingga 70 tahun ini. Sesekali, kita bisa tersenggol mereka yang berenang mengejar ikan teri yang sengaja diumpankan bagi mereka. Konon, hiu paus sudah ada sejak 60 juta tahun lalu.

Kehadiran bagan apung milik nelayan di Tanjung Bicari, Kampung Mai Mai, Distrik Kaimana ini, menjadi magnet bagi hiu paus yang biasa mengembara di perairan hangat ini. Ikan-ikan kecil seperti ikan teri, menjadi kudapan favoritnya. Bahkan, kadang mereka terperangkap masuk ke dalam jaring bagan karena berburu makanannya.

Bagi wisatawan, kehadiran hiu paus di sekitar bagan, adalah sebuah keberuntungan. Sebab hiu paus mendekati bagan karena berharap mendapatkan ikan-ikan kecil sebagai makanannya.

Ada nelayan yang menganggap bahwa hiu paus adalah pertanda keburuntungan. Namun sebagian nelayan memandang, hiu paus bisa merugikan mereka, karena memangsa ikan-ikan kecil.

“Kalau bagi saya, jika hiu paus ini datang, itu pertanda akan ada banyak ikan datang ke bagan,” ucap Husein, nelayan yang kami temui di bagan.

Untunglah, kesadaran nelayan tentang perlunya melindungi satwa yang dilindungi ini semakin meningkat. Meski demikian, masih dijumpai ada hiu paus yang terluka, Entah karena tak sengaja tersangkut jaring bahkan kail nelayan, atau memang karena ada manusia yang sengaja melukainya, karena merasa hiu paus memangsa ikan yang akan ditangkapnya.

CII atau Conservation International Indonesia, sebagai salah satu organisasi yang bergerak di bidang lingkungan, menaruh perhatian serius dalam masalah ini. Memberikan pengertian pentingnya  menjaga kebersihan laut, menjaga kelestarian ekosistim di laut, sudah membuahkan hasil positif. Di Papua Barat, keindahan laut Raja Ampat yang kini dikenal sebagai daerah destinasi atau tujuan wisata yang mampu menghasilkan income bagi daerah, diantaranya merupakan hasil sentuhan mereka.

Untuk memantau perkembangan dan pergerakan hiu paus tersebut, CII telah memasang alat pemancar yang melalui satelit bisa memberikan data mengenai kondisi hiu paus tersebut. Sayangnya, alat yang dipasang di sirip tersebut, tidak 100% memberikan data akurat, disebabkan beberapa keadaan, antara lain, satelit tidak bisa menangkap sinyal dari alat tersebut jika ikan tersebut sedang menyelam dalam kedalaman tertentu, atau ada kotoran semisal lumut, yang menempel pada alat tersebut.

Karena alat inilah, keberadaan Susi –nama yang diberikan bagi salah satu hiu paus yang telah diberi alat detektor, sebagai penghargaan terhadap Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti- bisa diketahui sedang berinteraksi bersama kami saat itu.

Sebenarnya ada hiu lain yang “ramah” terhadap manusia. Setidaknya ada dua hiu lagi, yakni hiu bermulut besar (Megamouth Shark) dan hiu penjemur (Basking Shark). Sama dengan hiu paus, makanan utamanya mereka adalah plankton, yakni organisme berukuran renik yang dianggap sebagai organisme terpenting, karena menjadi makanan bagi kehidupan akuatik. (wahyu hidayat)

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Suasana Sidang Istimewa DPRD Kabupaten Fakfak saat itu

ANRI Siap Terima Dokumentasi Pepera Dari Fakfak

INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Kebingungan Rajab Leasa, pemilik puluhan foto dan negatif film dokumentasi Pepera atau Penentuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>