Home / Headline / Merespon Tantangan Positif Bupati Fakfak, “Kitonk Jago Berkelompok, Tapi Untuk Individu Tarada”

Merespon Tantangan Positif Bupati Fakfak, “Kitonk Jago Berkelompok, Tapi Untuk Individu Tarada”

Pertandingan bulutangkis di Fakfak
Pertandingan bulutangkis di Fakfak

Kira-kira seperti itulah penggalan kalimat yang terlontar dari seorang Kaka Mocha. Bukan orang sembarang, beliau adalah pemimpin daerah. Ya.. seorang Bupati Fakfak. Beliau melempar kalimat tantangan tersebut kepada induk dari sebuah organisasi olahraga yang menaungi salah satu cabang olahraga yang paling bisa, paling mampu dan paling sering mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional, ia adalah olahraga Bulutangkis!

Tantangan dari seorang Kaka Mocha mungkin tidak bermakna dan biasa-biasa saja jika dialamatkan kepada sodara-sodara yang berada di Pulau Jawa, yang secara historis telah melahirkan banyak talenta berbakat di cabang olahraga tersebut, tanah yang melahirkan pemain-pemain nasional berprestasi dunia, daerah yang syarat akan fasilitas, sehingga membudayakan olahraga tersebut terasa lebih mudah dan murah, pulau yang memiliki sumber daya manusia (sdm) melimpah dan menjadikan olahraga tepok bulu menjadi kegemaran berbagai kalangan, baik tua maupun muda, kaya maupun miskin, negeri yang bahkan mayoritas memasukkan olahraga bulutangkis kedalam ekstrakurikuler favorit di sekolah-sekolah. Apa yang disampaikan Bupati Fakfak yang akrab disapa Kaka Mocha ini, sedikit anomali jika mengacu kepada siapa tantangan diatas dialamatkan. Tantangan yang ditujukan kepada segenap khalayak bulutangkis di kota Fakfak, Papua Barat berikut organisasi wadahnya; PBSI.

Mendengar nama Provinsi Papua/Papua Barat, identik dalam unity dan kesatuan pandangan soal ras, serta sebuah neo-budaya diluar tradisi warisan leluhur yakni olahraga. Dimana sejak masa penjajahan Belanda, atau masa setelah merdeka dan menjadi bagian NKRI, serta teranyar prestasi sekitar 2 (dua) dekade terakhir oleh salah satu klub sepakbola asal Jayapura Papua, Persipura, kita tentu akan sepakat bahwa, bicara soal kebiasaan maupun prestasi dan neo-budaya non-kultur yakni olahraga, Papua/Papua barat identik dengan sepakbola, bukan bulutangkis !

Namun, jika melihat bagaimana negara menghadirkan kemewahan dukungan, peluang dan masa depan yang baik bagi pelaku olahraga ini karena seringnya prestasi mengharumkan nama bangsa, serta program-program pusat yang serius menjadikan bulutangkis sebagai olahraga unggulan bangsa, bukan tidak mungkin untuk kita mencerna kembali kalimat tantangan Kaka Mocha lalu menjadikannya sebagai pemacu semangat organisasi dan warganya untuk berpikir kearah pengembangan prestasi. Kenapa tidak? Bulutangkis adalah olahraga syarat prestasi bangsa, sudah tentu negara akan menaruh atensi lebih pada cabang olahraga ini, demi kelangsungannya dimasa mendatang.

Fakfak, sebuah kota tua di Papua Barat, menurut cerita yang penulis dapati dari para sesepuh bulutangkis kota ini, sempat menjadi salah satu barometer kemajuan olahraga bulutangkis sejak Papua masih bernama Irian Jaya. Mulai dari sukses penyelenggaraan Rudi Hartono cup sebagai tuan rumah, yang kemudian menginisiasi lahirnya sebuah bangunan gedung olahraga pertama dikota ini, serta melahirkan bibit pemain berbakat yang sempat berlatih magang di tanah Jawa sekitar tahun 90an.

Saat ini jangankan berbicara prestasi, fasilitas gedung   pun nyaris tak ada. Hanya beberapa gedung milik perseorangan/swasta yang tentu bertendensi bisnis dengan fasilitas seadanya. Namun dari banyaknya kesulitan sarana dan fasilitas yang dihadapi warga peminat olahraga bulutangkis di kota ini, sebuah angka menjanjikan dicatat oleh Pengkab PBSI Kabupaten Fakfak selama kurun waktu satu tahun (2017-2018) bahwa, tercatat 269 (dua ratus enampuluh sembilan) pemain putra dan putri yang terdaftar pada 10 (sepuluh) PB/klub bulutangkis yang ada di kota ini. Belum lagi, pemain usia dini yang tercatat 60 (enam puluh) anak dari beberapa kelompok umur. Ini adalah potensi besar yang harus dimanajemen secara konklusif dengan baik bukan saja oleh Pengkab PBSI, namun butuh dukungan penuh pemerintah daerah melalui instansi terkait.

Sejalan, tantangan Kaka Mocha selaku kepala daerah untuk Fakfak dapat melahirkan prestasi maupun bibit atlet potensial individu adalah mengorek kesadaran pelaku olahraga bulutangkis, dimana rangsangan dana ratusan juta untuk induk organisasi ini telah diserahkan melalui KONI berikut upaya pemerintah daerah kabupaten Fakfak membangun sarana gedung bulutangkis yang saat ini sedang dalam progres maju.

Sungguh, sebuah tantangan berbobot yang ditunjang keseriusan sudah dilempar  Pak Bupati, teranyar; dalam sambutan beliau pada pembukaan event turnamen bulutangkis Bupati cup 2018 beberapa waktu lalu, Beliau mendorong Pengkab PBSI maupun pemda, untuk menginisiasi pelaksanaan turnamen bulutangkis Gubernur Cup 2019, agar dilaksanakan di kota Fakfak.

Ini bisa jadi momentum menjawab  tantangan prestasi dimana saat tulisan ini dibuat, turnamen bulutangkis Bupati Cup 2018 telah memasuki fase-fase final, dimana terjaring beberapa pemain usia dini bibit muda asli Fakfak, yang akan disaring dan dipersiapkan untuk event-event lebih besar kedepan. Tentu ini awal yang baik dalam progress menuju ke sebuah produk akhir bernama “prestasi”.

Memang masih banyak pekerjaan rumah serta langkah panjang yang harus dilalui dengan serius dan sungguh-sungguh. Butuh banyak inisiator pertandingan, pendataan pemain usia dini dan memikirkan program pelatihan yang teratur, memiliki pelatih profesional hingga ke try out untuk menambah jam terbang atlit, adalah beberapa diantaranya.

Harapan itu ada, terlebih saat ini kepengurusan organisasi PBSI dinahkodai oleh para muda. Widi Asmoro Jati sebagai ketua, Muhammad Taufik sebagai sekretaris, juga banyak nama-nama muda inovatif masuk dalam jajaran kepengurusan organisasi Pengkab PBSI ini.

Jika semua pihak terkait benar-benar bekerja keras, sembari tetap berdoa, kita boleh untuk tetap berandai akan memenuhi ekspektasi Kaka Mocha yang terkesan overrated dalam beberapa tahun kedepan,  bahwa, akan ada nama-nama asli Fakfak yang menjadi atlet bulutangkis nasional! Untuk setidaknya mematahkan image “kita jago berkelompok, tapi indvidu tarada”.

Salam,

Wahyu Rumagesan

About Admin

Santun Mencerdaskan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>