Home / Headline / Musyawarah Adat Beraroma Pengadilan Bagi Ketua Dewan Adat Mbaham Matta

Musyawarah Adat Beraroma Pengadilan Bagi Ketua Dewan Adat Mbaham Matta

Masyarakat antusias mengikuti musyawarah adat
Masyarakat antusias mengikuti musyawarah adat

INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Hasil akhir musyawarah adat atau musdat antara suku Mbaham Matta dan suku Irarutu serta suku Sumuri yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Fakfak dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni pada Sabtu (25/7) kemarin di Distrik Bomberay, Fakfak, sejatinya sudah ditebak bakal deadlock alias mentok. Sebab, tak mudah untuk menyatukan pendapat mendasar, apalagi berkaitan dengan hak dasar, yakni masalah hak ulayat.

Kehadiran Forkompimda dari kedua kabupaten, serta kehadiran Staf Ahli Gubernur Papua Barat Bidang Pemerintahan dan Otsus, Rober Adrianus Rumbekwan, belum memberikan pengaruh besar. Hingga akhirnya, hasil akhir musdat sebatas bahwa, masalah tersebut akan diserahkan ke tingkat provinsi.

Yang menarik dari musdat tersebut, justru hal-hal diluar pokok bahasan. Dari moderator yang dianggap kurang seimbang dalam memberikan kesempatan, pernyataan seorang pimpinan yang menyatakan jangan terlalu percaya pers, latar belakang masalah, hingga anggapan bahwa, musdat tersebut tak ubahnya bagaikan pengadilan bagi  Ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Sirzet Gwa Gwas. Alhasil, Sirzet memilih hengkang dari musdat tersebut.

Perwakilan masyarakat suku Irarutu dan Sumuri, bertahan pada permintaan mereka, agar Sirzet Gwas Gwas menjelaskan tentang pernyataan kerasnya di media massa. Penjelasan ini akan menentukan, apakah pembahasan tapal batas adat bisa dilanjutkan atau tidak. Meski kenyataannya, disela-sela permintaan itu, terselip penjelasan tentang alasan pemasangan tapal batas adat.

Mendapat “serangan” itu, Sirzet menjelaskan secara detail dan diakhiri permintaan maaf atas kerasnya pernyataannya.

“Jika memang pernyataan saya telah menyinggung saudara-saudara saya, saya minta maaf,” kata Sirzet diakhir penjelasannya.

Bahkan, Sirzet mengumpamakan, daun tidak mungkin bergoyang jika tidak ada sebabnya, sebagai penjelasan bahwa, pernyataan kerasnya tersebut adalah reaksi atas aksi pemasangan tapal batas adat di Kampung Mitimber, Distrik Mbaham Ndandara pada Jumat, 27 Juli 2018 lalu.

Untunglah, pihak keamanan cakap dalam mengantisipasi kemungkinan kerawanan. Selain itu, Allah Sang Penguasa Jagat, menurunkan kesejukan dengan turunnya hujan, meski sebelumnya sudah sebulan Bomberay kering kerontang.

Mudah-mudahan, pasca musdat yang menyedot anggaran yang tidak sedikit ini, aktivitas masyarakat Bomberay dan sekitarnya, kembali normal. Jangan lagi ada rasa takut untuk berkebun, hingga sayuran tak kunjung terpanen. (wah)

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Suasana Training of Trainer Local Tourism Guide

20 Orang Mengikuti Training of Trainer Inklusi Digital Pariwisata

INFOFAKFAK.COM, FAKFAK_ Training of Trainer Inklusi Digital Pariwisata yang diselenggarakan oleh Alpha-I, yang merupakan organisasi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>