Home / Headline / Masalah Perusakan Satlantas, Dewan Adat Angkat Bicara

Masalah Perusakan Satlantas, Dewan Adat Angkat Bicara

Dewan Adat Mbaham Matta menggelar jumpa pers yang dihadiri Ketua III, Yeremias Tuturop dan tokoh adat lainnya
Dewan Adat Mbaham Matta menggelar jumpa pers yang dihadiri Ketua III, Yeremias Tuturop dan tokoh adat lainnya

Fakfak_ Didampingi sejumlah tokoh adat dari beberapa petuanan di Fakfak, serta perwakilan masyarakat Kampung Werpigan, Dewan Adat Mbaham Matta menggelar jumpa pers di Kantor Dewan Adat Mbaham Matta yang berlokasi di area reklamasi, Jl. Dr. Salasa Namudat, Fakfak, Jumat siang (5/1) tadi.

Ketua III Dewan Adat Mbaham Matta, Yeremias Tuturop menjelaskan bahwa, dewan adat perlu untuk menjelaskan masalah perusakan Kantor Satlantas Polres Fakfak yang terjadi pada Senin, 1 Januari 2018 lalu, agar masyarakat mengerti duduk persoalannya langsung dari sumber resmi dan terpercaya.

“Dalam masalah perusakan Kantor Satlantas, memang benar terjadi pemukulan, tetapi tidak benar adanya informasi atau isu yang mengatakan bahwa oknum aparat mengencingi Raja Atiati,” jelas Yeremias.

Yeremias juga menyerukan agar masyarakat dapat menghentikan “budaya” kekerasan dan main hakim sendiri.

“Stop kekerasan dan main hakim sendiri. Jika terjadi sesuatu, laporkan kepada atasannya,” ujar Yeremias.

Marthen Wo, salah seorang anggota Tim Pencari Fakta bentukan dewan adat menyampaikan, pihaknya tetap menjunjung tinggi penegakan hukum.

“Untuk mekanisme yang terjadi di kepolisian, kami tentu tidak bisa ikut campur. Silakan berjalan sesuai prosedur,” kata Marthen.

“Kami tentu mengikuti prosedur hukum yang berlaku. Namun demikian, kami juga berharap, agar pihak kepolisian ada kebijaksanaan. Mengenai kejadian perusakan itu, kami memohon maaf. Bagaimanapun juga, kami juga keluarga besar NKRI, jadi sayangilah kami,” ujar Yeremias.

Perlu diketahui, saat ini, Ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Sirset Gwas Gwas tengah berada di Manokwari, dan informasinya telah menghadap ke Polda Papua Barat, utuk membicarakan hal ini.

Yeremias menjanjikan akan mengundang wartawan kembali, setelah Ketua Dewan Adat Mbaham Matta pulang dari Manokwari, untuk memberikan penjelasan yang lebih luas, mengenai sikap kepolisian dan harapan Dewan Adat Mbaham Matta.

Seperti yang ramai diberitakan, pada Senin, 1 Januari 2018 lalu, puluhan masyarakat Kampung Werpigan, Distrik Fakfak Barat, menggeruduk Kantor Satlantas Polres Fakfak. Massa mengamuk dan merusak mobil, motor, kaca-kaca jendela serta perlengkapan milik Satlantas Polres Fakfak.

Tindakan massa ini, dipicu oleh isu yang menyebutkan bahwa Raja Petuanan Atiati, Syahril Bai, dipukul oleh salah seorang anggota Satlantas Polres Fakfak. Bahkan beredar pula isu, bahwa Raja Atiati tersebut dikencingi oleh oknum Satlantas.

Akibat peristiwa ini, negara ditaksir mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Untuk itu, kepolisian telah memeriksa belasan saksi dan terduga pelaku perusakan. Sebelumnya, polisi memberikan batas waktu tiga hari kepada para pelaku perusakan, untuk datang dan mengikuti prosedur hukum.

Kasus Satlantas Ada Setingan Wartawan?

Informasi adanya tudingan adanya wartawan yang ikut menyeting kasus ini, membuat kalangan wartawan di Fakfak bingung. Sebab belum jelas apa maksud tudingan tersebut.

Awal muasal tudingan ini, bersumber dari adanya SMS dalam bahasa inggris yang kabarnya, dikirim oleh Kapolres Fakfak, AKBP. Deddy FW, kepada wartawan Radar Sorong, Rico Letsoin, SH.

Kepada Rico, Kapolres mengirim SMS “Walaikum salam. Barakallahu fikum. God bless u mr. rico, i don’t have to explain about the case. Because this is part of the journalism goal we could say this is agenda setting of media. I accept this as a victim of structure. You can meet dewan adat mbaham matta fakfak to get the real story.”

Jika diterjemahkan bebas, SMS itu bisa diartikan “Walaikum salam. Barakallahu fikum. God bless u mr.rico, saya tidak perlu menjelaskan tentang kasus ini. Karena ini adalah bagian dari tujuan jurnalistik yang bisa kita katakan ini adalah agenda pengaturan media. Saya menerima ini sebagai korban struktur. You bisa bertemu dewan adat mbaham matta fakfak untuk mendapatkan kisah nyata.”

“Kapolres harus bisa memberikan bukti mengenai dugaan tersebut. Jika memang ada bukti, laporkan kepada dewan pers, agar wartawan tersebut mendapat sangsi,” ujar Rico. “Jangan sampai, jika ada masalah, wartawan menjadi kambing hitam,” lanjutnya. (wah)

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Bendera Jerman yang terobek dan terbakar

Lapor Balik Penganiayaan Dan Perusakan, FK Juga Akan Laporkan Soal Cek Bodong

Fakfak_ FK atau Fredy Kerryanto, anggota DPRD Kabupaten Fakfak yang dilaporkan Lando Iha terkait dugaan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>