Home / Headline / Belajar Dari Musibah, Mobil Damkar Harus Siaga

Belajar Dari Musibah, Mobil Damkar Harus Siaga

Seuah rumah di Jl. A Yani Fakfak terbakar. 1 balita menjadi korban
Sebuah rumah di Jl. A Yani Fakfak terbakar. 1 balita menjadi korban

Fakfak_ Manusia memang luar biasa. Allah menciptakannya berbeda dengan makhluk lainnya. Nalurinya, membuat manusia saling tolong menolong, meski itu bukan tanggung jawab dan tugasnya. Bahkan mempertaruhkan jiwa.

Kebakaran yang diduga akibat konsleting listrik yang meluluhlantakkan sebuah rumah di Jalan Ahmad Yani, Fakfak, Sabtu (30/12) sekira pukul 14.30 WIT kemarin, merenggut korban seorang balita. Caca yang berusia 4 tahun itu, ditemukan sudah wafat di salah satu kamar. Korban langsung dievakuasi ke UGD dan tak lama kemudian dipindahkan ke ruang jenazah RSUD Fakfak.

Kebakaran ini membuat duka bagi keluarga J Wally, anggota Polres Fakfak. Istri dan anak bayinya yang berusia beberapa bulan memang selamat, namun anak pertama mereka, meninggal dalam musibah ini.

Menurut Fachri, salah seorang yang membantu memadamkan api dan turut mengevakuasi korban, dirinya melihat asap hitam membubung dari rumah tersebut. Diakuinya, api berkobar dan merembet sangat cepat. Dinding yang terbuat dari papan, membuat api cepat membesar.

“Saya pulang dari RS lewat depan rumah itu, awalnya saya melihat asap hitam dan tak lama kemudian, nyala api sudah membesar,” kata Fachri.

Api baru baru bisa dikendalikan sekitar satu jam kemudian, setelah tiga mobil pickup penjual air dan satu mobil tangki air milik BNPB menyemprotkan air. Tiga mobil penjual air, harus bolak-balik mengisi air dan datang ke lokasi musibah, lantaran kapasitas tangkinya hanya 1.000 liter. Sedangkan mobil BNPB datang disaat api sudah mulai padam.

Sebelumnya, belasan anggota Polres Fakfak yang dibantu puluhan warga, berusaha memadamkan api. Mereka harus memecahkan kaca jendela serta membongkar atap seng, agar air dapat masuk ke dalam bangunan.

Inilah naluri manusia. Mereka tetap merengsek maju memadamkan api, meski keselamatan jiwanya tergadaikan dalam bahaya. Bahaya tertimpa seng dan kayu yang masih membara, tak membuat mereka surut. Bahkan sebagian memanjat seng berusaha masuk.

Dari peristiwa ini, seharusnya membuat kita belajar, bahwa meski kebakaran tak terjadi setiap hari, namun kesiapsiagaan mobil pemadam kebakaran atau mobil PMK mutlak diperlukan. Sayangnya, Fakfak belum memiliki mobil PMK, setidaknya mobil PMK yang selalu siaga.

Dulu, ada mobil PMK ukuran kecil, tapi nampaknya sudah mangkrak tak berfungsi. DPRD masih membahas anggaran daerah. Belum terlambat membahas masalah ini pula. Lalu, masih perlukah ada korban karena keterlambatan kita lagi? (wah)

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Landasan pacu Bandara Torea Fakfak, dibersihan manual dengan sapu

Bandara Torea Belum Tahu Kapan Dibuka, Benarkah Wings Nekat Terbang Tanpa ijin Besok?

Fakfak_ Memasuki hari ketiga pasca musibah tebing bergeser dan longsor pada Rabu (10/1) lalu di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>