Home / Headline / Debt Colector Tercengang Banyak Ranmor Bodong, Fakfak Sudah Tak “Kondusif”

Debt Colector Tercengang Banyak Ranmor Bodong, Fakfak Sudah Tak “Kondusif”

(Ilustrasi) Kenapa banyak motor tanpa plat nomor polisi?
(Ilustrasi) Kenapa banyak motor tanpa plat nomor polisi?

Fakfak_ Dua orang debt collector atau juru tagih atau mata elang dari salah satu perusahaan jasa penagihan asal Surabaya yang tiba di Fakfak seminggu lalu, mengaku kaget. Pasalnya, di kota sekecil Fakfak ini, mereka menemukan puluhan motor dan mobil bodong.

Keberadaan mereka di Fakfak pada minggu lalu itu, membawa surat kuasa untuk menarik 3 mobil yang sudah belasan bulan masuk kategori kredit macet.

“Kami sudah sampai ke daerah di Fakfak Barat. Ternyata disana juga kami temui motor motor yang menurut data, termasuk kredit macet. Sedangkan beberapa mobil yang masuk dalam pantauan kami, sudah kami temukan,” ujar Hasyim, salah seorang debt collector.

Menurut Hasyim, jika pihaknya kesulitan menarik ranmor tersebut, maka mereka akan minta bantuan tim advokasi perusahaan, untuk datang ke Fakfak. Dengan demikian, upaya hukum akan dijalankan.

Hasyim juga menjelaskan, bahwa pembelian ranmor bodong, apapun alasannya bisa disalahkan. Sebab, jual beli kendaraan bermotor atau ranmor, harus dilengkapi dengan dokumen sah.

“Kalau anda membeli motor atau mobil, tapi hanya dilengkapi STNK saja tanpa BKPB, itu jelas salah. Ada 2 kemungkinan asal ranmor yang hanya dilengkapi STNK saja, yaitu kredit macet atau hasil tindak pidana lainnya. Kalau ternyata dari hasil tindak pidana, pembeli masuk pasal penadah, pasal 480 KUHP,” tambah Hasyim.

Sementara itu, Eka Marta A P, yang sudah lebih dari 20 tahun berprofesi sebagai debt collector dan kini memiliki koperasi simpan pinjam di Malang, Jawa Timur, membagi pengalamannya.

“Kalau suatu daerah yang jauh dan terpencil sudah menjadi incaran debt collector yang merupakan kepanjangan tangan perusahaan, berarti daerah tersebut sudah tidak kondusif untuk bisnis ranmor bodong. Saya sarankan kepada pemilik ranmor yang dibeli secara illegal tersebut, lebih baik mengembalikan ranmornya kepada yang menjual kali pertama. Ini untuk menghindari kerugian ranmor ditarik,” jelas Eka.

Menurut Eka, di perusahaan jasa penagihan, ada banyak tim eksekutor, dengan berbagai macam karakter. Ada yang melakukan pendekatan lebih dulu kepada pemegang ranmor bodong, ada yang langsung meminta bantuan aparat.

“Apalagi kalau yang pegang ranmor adalah aparat, biasanya tim cukup pendekatan kepada pimpinannya. Kalau belum beres juga, diatas mereka ada pimpinan lagi, yang sudah ada koneksi dengan perusahaan,” kata Eka.

Eka lantas mengisahkan, beberapa tahun lalu di salah satu kabupaten di Jawa Timur, saking banyaknya ranmor bodong yang beredar di masyarakat, aparat member batas waktu kepada masyarakat yang memiliki ranmor bodong untuk menyerahkannya ke balai desa setempat. Jika tidak, aparat akan menindak.

“Tindakan aparat ini merupakan perintah dari level diatasnya, sehingga wajib dilaksanakan. Ini penarikan massal yang pernah terjadi,” ujar Eka.

Nah, jangan sampai kita rugi berlipat-lipat. Sudah kendaraan disita, uang kita pun amblas. Sebelum itu terjadi, ada baiknya berlepas diri dari bisnis dan pengguna ranmor bodong. (wah)

 

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Kepala Kejaksaan enegeri Fakfak, Rilke Jeffry Huwae, SH. MH.

Skandal “Koperasi” DPRD Fakfak 3 Milyar Lebih Dibidik Kejaksaan

Fakfak_ Boleh percaya boleh tidak. Ternyata, baik mantan anggota maupun anggota DPRD Kabupaten Fakfak yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>