Home / Headline / Wartawan Akhirnya Bisa Melihat Langsung Kondisi Bayi

Wartawan Akhirnya Bisa Melihat Langsung Kondisi Bayi

Hasan Husein, bayi kembar dempet perut
Hasan Husein, bayi kembar dempet perut

 

Fakfak_ Kunjungan Bupati Fakfak, Drs. Muhammad Uswanas, MSi. beserta rombongan yang membezuk bayi kembar siam dempet perut, akhirnya “membuka palang” pintu ruang perawatan bayi, yang selama ini “bagai misteri” dan terkunci dari dalam.

 

Sebelumnya, wartawan kesulitan melihat langsung kondisi bayi untuk mengambil gambar, karena pintu ruang perawatan dikunci dari dalam. Bahkan, sekadar permintaan titip kamera dan meminta Direktur RSUD membuka kain tirai jendela, tidak dikabulkan. Terpaksa, wartawan mengambil gambar dari ventilasi di atas jendela.

 

Jika beralasan bahwa bahwa ruang bayi harus steril, jelas alasan ini mengada-ada. Sebab, beberapa orang, termasuk dokter, masuk ruang perawatan bayi dengan sepatunya, yang kemungkinan juga terkena najis.

 

Kamis (19/3), salah seorang keluarga bayi, Muhammad Maswain, kepada wartawan menyampaikan bahwa, dokter anastesi yakni dr. Rudi didampingi dokter kandungan dr. Kambuh, memberitahukan bahwa salah satu bayi telah meninggal dunia.

 

Informasi ini dibenarkan oleh dr. Jan Piter Kambuh, SpOG. “Kalau yang disampaikan memang seperti itu. Saya sendiri tidak menangani bayi, sebab sudah ada dokter anak. Saya kira, penjelasan itu sudah melalui informasi dokter yang menangani bayi. Saya saat itu hanya mendampingi dr. Rudi saja,”

 

Tapi benarkah salah seorang bayi telah meninggal dunia? Dua dokter spesialis anak, yakni dr. Eka dan dr. Ricard menyatakan bahwa, kedua bayi masih hidup.

 

“Saat itu jantung salah satu bayi memang sempat berhenti berdetak, namun dokter berusaha dan akhirnya bisa menyelamatkan bayi,” terang dr. Eka.

 

Penjelasan dokter asal Nganjuk, Jawa Timur ini, diamini oleh dr. Ricard. Dokter asal Manado ini menambahkan bahwa, situasi medis bayi, tidak memungkinkan untuk melakukan evakuasi atau merujuk bayi ke Surabaya.

 

“Saya sudah konsultasi dengan dokter yang memegang otoritas tertinggi masalah ini, beliau meminta untuk tidak merujuk bayi, sebelum kondisinya memungkinkan,” tambah dr. Ricard.

 

Sementara itu, La Iriani, SH., pengacara kondang di Fakfak ini menjelaskan bahwa, jika memang terbukti terjadi pembiaran sehingga bayi tidak dirujuk, hal itu merupakan tindakan pidana.

 

“Bisa pidana atau malpraktik. Itu jika memang terjadi pembiaran. Jika dilihat dari SDM dan peralatan RSUD Fakfak, tentu tidak memungkinkan untuk menangani kasus ini di Fakfak. Harus ditangani oleh rumah sakit rujukan seperti RS dr. Soetomo Surabaya. Kalau pendapat saya, sebaiknya memang dirujuk,” terang La Iriani.

 

Pendapat La Iriani mendapat dukungan dari dr. Jan Pieter Kambuh, SpOG. Menurutnya, bayi tersebut memang harus dirujuk. (wah)

About Admin

Santun Mencerdaskan

Check Also

Bupati Fakfak, Drs. Muhammad Uswanas membezuk bayi dan ibunya

Bupati Bantu Penuh Bayi Kembar Siam, Himbau Ibu Hamil Rutin Periksa Kandungan

Fakfak_ Bupati Fakfak, Drs. Muhammad Uswanas, MSi. yang didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Samaun Dahlan, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>